Tampilkan postingan dengan label tools. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tools. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Oktober 2010

Perbandingan Macro Converters

Catatan: klik pada gambar untuk melihat ukuran lebih besar!

Tujuan penggunaan macro converter adalah untuk memperpendek jarak fokus sehingga kamera dapat memotret obyek yang jaraknya sangat dekat. Sebagaimana disebutkan dalam tulisan sebelumnya, ada 3 alat yang bisa saya gunakan untuk macro converter, yaitu:

  • 0.45x wide // 1.4x macro converter buatan jepang seharga Rp 450.000
  • Lup/ kaca pembesar seharga Rp 7.000 yang dipasang pada tutup spray 
  • Lensa jadul 50 mm f/1.9 (dibeli seharga Rp 100.000, bagian dalamnya saja)
Obyek untuk pemotretan ini adalah selembar halaman koran:


Ada 2 lensa yang saya pakai untuk pengujian ini, yaitu:
  • Sony DT 18-70 mm f/3.5-5.6 SAL, jarak obyek minimal 28 cm (mode makro)
  • Minolta 70-210 mm f/4-5.6, jarak obyek minimal 110 cm
Lensa standar Sony DT 18-70 mm SAL memiliki jarak fokus makro yang cukup dekat, yaitu 38 cm. Hasil foto dengan crop 100% pada jarak tersebut ditunjukkan pada foto berikut:

Macro converter ini saya peroleh dengan harga Rp 450.000, terdiri dari 2 bagian optik yang terpisah, kita harus membalik bagian yang dekat kamera untuk mengubah fungsinya.


Penggunaan 1.4x macro converter memperpendek jarak obyek minimum jadi 20 cm. Pada penggunaan converter ini, fungsi metering & autofokus tetap berfungsi normal. Hasil foto menggunakan macro converter pada crop 100% ditunjukkan pada foto berikut:

Lup atau kaca pembesar yang digunakan sebagai macro converter merupakan alternatif paling murah dan berfungsi cukup efektif untuk memperpendek jarak obyek. Dengan harga Rp 7000. saya tidak ragu2 untuk melepas kaca pembesar dari gagangnya & mengamplas tepinya supaya bisa masuk ke bekas tutup spray.
 Maaf ya, saya gak rapih mengerjakannya, kelihatan masih banyak debu di kacanya ... hehehe ... Yang mengejutkan buat saya adalah bahwa penggunaan lup/ kaca pembesar dapat memperpendek jarak obyek hingga 10 cm. Alat ini juga tidak mengganggu fungsi metering & autofokus. Sayangnya, kualitas optik yang rendah mengurangi ketajaman.

Lensa jadul Yashica 50 mm f/1.9 yang saya gunakan sebagai reversed lens ini bagian luar body-nya sudah rusak, jadi hanya dihargai Rp 100.000. Optiknya masih bagus, walaupun ada bekas jamur (cleaning mark) tapi tidak mengganggu hasil. Untuk memasangnya ke lensa bisa memakai reverse adapter, tapi seperti pada lup, saya pakai tutup spray.
Reversed lens ini dapat menghasilkan foto obyek pada jarak kurang dari 5 cm dengan pembesaran maksimal dan kualitas yang sangat baik. Masalahnya, reversed lens mengurangi intensitas cahaya dan menyebabkan autofokus tidak berfungsi, jadi kita harus sabar menggerakkan kamera maju-mundur untuk memperoleh fokus. Hasilnya dapat dilihat pada foto berikut:

Menakjubkan ya? Kita bisa melihat dengan jelas serat dan pori-pori di permukaan kertas korannya. Tapi tidak berfungsinya autofokus menurut saya cukup merepotkan, apalagi jika kita memotret obyek yang bergerak. Oleh karena itu, pada pengujian dengan lensa 70-210 saya hanya menggunakan lup saja.
Lup converter yang terpasang di depan lensa 70-210 mm ditunjukkan pada gambar berikut:
Yang menarik, penggunaan lup converter ini memperpendek jarak obyek terdekat dari 1,1 m menjadi 30 cm saja. autofokus dan metering pun tetap berfungsi. Dalam foto berikut, saya tampilkan crop 100% (bagian atas) dan keseluruhan frame (bagian bawah) dari botol air kemasan yang dipotret dari jarak 1,1 m tanpa tambahan lup converter.

Sebagai pembanding, foto di bawah adalah crop 100% (bagian atas) dan keseluruhan frame (bagian bawah) setelah ditambahkan lup converter dari obyek yang sama pada jarak 30 cm

Kesimpulan akhir kami serahkan pada pembaca masing-masing :-)

Macro Tools

Foto-foto dari rekan-rekan di facebook - thanks untuk Iwel, Santo Goofy, Adrianto Raharjo, Qee, dkk - bikin saya kangen motret makro. Kebetulan ada beberapa alat yang bisa dijadikan macro converter, di antaranya:
  • lensa jadul 50 mm f/1.9 untuk reversed lens
  • kaca pembesar/ lup untuk converter murah-meriah
  • 0.45x wide// 1.4x macro converter buatan Jepang 

Problemnya, tambahan panjang macro converter di depan lensa menyebabkan timbulnya bayangan jika digunakan flash seperti ini:

saya jadi ingat pengalaman bersama master Adrianus Juniarno waktu motret di Dago Pakar. Kita mesti membuat alat untuk "mengarahkan" dan :menyebarkan" cahaya flash (selanjutnya saya tulis difuser) untuk hasil terbaik.Dengan peralatan berupa gunting, penggaris, pensil dan lem, saya membuat difuser dari bahan seadanya, yaitu:
  • karton bekas kotak hardisk bagian luar
  • kertas foto untuk pelapis dan pemantul (reflektor) di bagian dalam
  • kertas tisu atau kertas kalkir untuk peredam cahaya di depan
  • isolasi sebagai pelapis luar 
  • lakban untuk "menempelkan" difuser ke body kamera 
Panjang difuser disesuaikan dengan panjang total lensa dengan converter terpasang. Difuser cepat jadi ini bentuknya ga terlalu rapih. Maaf ya ...
 Dalam kondisi terpasang, bentuknya jadi begini:


Hasil pemotretan dengan menggunakan macro converter dan diffuser:
Selanjutnya akan kita bandingkan, alat mana yang lebih nyaman digunakan untuk memotret macro.  :-)

Penjaga Kamera

Karena ada yang bertanya, ada baiknya saya tulis apa saja yang diperlukan untuk menjaga fungsi kamera. tetapi karena kamera & lensa saya gak banyak, tentunya alat yang saya punya tidak selengkap rekan-rekan lain yang memiliki banyak koleksi body & lensa.
Musuh utama kamera & lensa adalah debu & kelembaban. Oleh karena itu, peralatan penjaga kamera juga ditujukan untuk menghindarkan debu & kelembaban. Idealnya, kamera & lensa disimpan dalam dry-box atau dry-cabinet, apalagi jika tidak dipakai dalam waktu lama.
Di rumah ada 4 kamera dan lensanya: SLR Canon EOS 1000FN,  poket HP M407 (4MP), prosumer superzoom Konica Minolta Z20 (5MP) dan Fujifilm S6500 fd, serta DSLR Sony A200. Berhubung tidak ada dry box atau dry cabinet, kamera ini ditempatkan saja dalam lemari yang kering dan sejuk. Untuk memastikan kondisinya baik, dalam lemari tersebut ditempatkan juga termometer & higrometer. Alat ini dapat dibeli dengan harga sekitar Rp 100.000 dengan kualitas cukup baik.

Temperatur ruangan yang umumnya 20-45 derajat Celcius tidak membahayakan kamera, tetapi kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan karat yang mengganggu sirkuit elektronik dan jamur yang merusak lensa. Kelembaban yang aman ditandai dengan warna biru (40 - 80%). Supaya lebih aman, sebaiknya diletakkan juga kantong-kantong kecil berisi silica gel.

Silica gel dapat ditempatkan dalam kantong kertas atau plastik. Jika ditempatkan dalam kantong plastik, buatlah beberapa lubang dengan jarum pentul agar silica gel dapat menyerap kelembaban ruangan.silica gel yang telah digunakan akan berubah warna dari biru menjadi pucat. Lakukan penggantian jika warna silica gel sudah memudar. Silica gel ini dapat dibeli perkilo ataupun per kantong. Saya membeli silica gel kiloan dengan harga Rp 50.000 per kilo, bisa dibagi menjadi 100 kantong kecil.
Debu juga merupakan "musuh alami" kamera & lensa. Untuk mencegah debu, ada baiknya dipasang kipas elektronik kecil. atau setidaknya belilah cleaning set yang terdiri dari blower, lap lunak, tisu, cotton bud, dan cairan pembersih

Untuk pengguna DSLR, perlu diperhatikan adanya celah antara lensa dan mount di body kamera. Celah selebar 0,5 mm ini memang sengaja dibuat sebagai toleransi untuk pemasangan & mengantisipasi pemuaian. Kamera-kamera DSLR modern biasanya sudah dilengkapi dust removal. Ada baiknya menggunakan fasilitas ini sebelum kamera disimpan setelah sebuah sesi pemotretan. Untuk kondisi ekstrim, diperlukan weather seal atau body armor. Seorang teman di pekanbaru yang sering mengajak kameranya ke lokasi-lokasi ekstrim memasang seal biasa digunakan pada mesin untuk menutup celah antara body & lensa ini.

Biasanya saya ajak istri & anak-anak untuk motret apa saja, paling tidak 2 hari sekali. Tujuannya supaya kamera-kamera itu selalu mendapat perhatian. jangan sampai ada problem yang terlewat.dan terlanjur menimbulkan kerusakan berat. Batere yang habis dan didiamkan terlalu lama dalam kamera pun dapat menimbulkan karat, lho ...
 Jadi: JEPRET TERUS!!! :-)

Rabu, 11 November 2009

Macromania - Diffuser

Memburu Cahaya Yang Lembut & Rata



Salah satu permasalahan yang harus diatasi dalam foto makro adalah bagaimana memperoleh cahaya yang tepat. Penggunaan cahaya alami sering tidak memungkinkan karena obyek tertutup oleh bayangan pemotret. Obyek yang selalu bergerak seperti serangga juga memerlukan shutter speed cukup tinggi agar diperoleh foto yang tajam. Namun penggunaan cahaya flash dalam kondisi normal akan menimbulkan pantulan yang 'keras' karena jarak obyek terlalu dekat.

Pemecahan dari masalah pencahayaan ini adalah dengan menggunakan 'peredam cahaya' yang dikenal dengan nama diffuser. Kabar baiknya, diffuser ini dapat Anda buat sendiri dengan biaya sangat terjangkau, tak sampai Rp 50.000. Hanya diperlukan sedikit kerajinan tangan (seperti pelajaran prakarya di SD dulu) dan kerapihan.

Untuk panduan lengkap membuat diffuser, silakan menengok catatan saya Homemade Diffuser atau thread yang dibuat sahabat saya Mas Mardi di forum kamera-digital.com dengan topik MardiBounce - 25 ribu perak dapat banyak

Macromania - Perlengkapan Pemotretan

Reversed Lens


Fotografi makro merupakan bidang yang menarik karena obyeknya bisa berupa apa saja yang ada di sekitar kita. Benda-benda yang biasa kita lihat namun difoto dari jarak super close up tentu menjadi pemandangan yang tidak biasa dan menjadi sesuatu yang menarik. Seperti tenunan pada tas ransel saya di foto berikut:


Foto di atas dibuat dengan menggunakan reversed lens. lensa 50mm f/1.8 yang dipasang terbalik pada body atau di depan lensa standar.Agak blur karena foto semacam itu memang sangat rentan terhadap gerakan & getaran.

Bagaimana cara membuat, memasang & menggunakan reversed lens, silakan tengok catatan saya tentang Motret Makro