Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2011

Sunset - Capturing the Golden Moment

Suasana menjelang matahari terbenam dengan nuansa jingga dan langit yang berwarna-warni selalu menarik untuk diabadikan. Akan tetapi cukup banyak rekan yang mengeluhkan kesulitan dalam menangkap momen tersebut.

Untuk membantu rekan-rekan, saya menulis 4 tips yang dapat dipraktekkan untuk mengabadikan sunset. Setting yang benar-benar pas untuk setiap kesempatan mungkin berbeda, jadi Anda harus temukan sendiri, tetapi saya harap tahap-tahap untuk menentukannya bisa membantu Anda.

SUNSET 01 - Menemukan setting yang tepat


Pada foto yang pertama ini, sasarannya adalah menangkap nuansa jingga yang muncul menjelang matahari terbenam. Yang perlu dilakukan adalah menentukan setting speed & aperture yang tepat. Untuk memperoleh perkiraan setting, saya pakai:


  • mode A, f/16, ISO 100, metering SPOT.
  • metering pada titik terang di bawah matahari
  • review gambar yang diperoleh
  • pindahkan mode dari A ke M dan lakukan penyesuaian speed

Pada setting seperti ini, biasanya diperoleh matahari bulat jingga dengan obyek di latar depan berupa siluet.

SUNSET 02 - Siluet di Latar Depan
Setelah memperoleh setting yang terbaik untuk mengabdikan matahari yang sedang terbenam, pertahankan setting tersebut dengan menggunakan mode M. Setelah itu, carilah obyek yang menarik di latar depan sehingga foto tampil lebih menarik. Misalkan pada foto bangau berikut ini


SUNSET 03 - Menggunakan Fill In Flash

Jika ingin menampilkan obyek di latar depan, harus ada cahaya tambahan untuk mengimbangi cahaya yang kuat di latar belakang. Penggunaan flash menjadi solusi alternatif agar obyek di latar depan muncul.
Yang perlu diperhatikan adalah maximum sync speed (shutter speed tertinggi yang bisa dicapai saat flash menyala). Ini akan menjadi salah satu pembatasan pada setting dan harus dikompensasi dengan pengaturan ISO atau aperture.
Contoh hasilnya saya bandingkan 2 foto berikut:

Pada foto atas, flash tidak digunakan sehingga teman saya hanya muncul sebagai siluet. Dengan menggunakan flash pada mode M dan diset slow sync, diperoleh hasil sebagaimana foto sebelah bawah.

SUNSET 04 - HDR
Jika ingin menampilkan banyak obyek di latar depan pada daerah yang luas, HDR menjadi alternatif untuk memuunculkan lebih banyak warna. Untuk melakukan ini, shutter harus dipasang ke mode BRACKETING dengan step +-0.5 atau +-0.7
Sebaiknya gunakan tripod dan timer agar pada saat pemotretan kamera tidak bergerak. Selanjutnya 3 foto yang diperoleh digabungkan dengan software HDR atau bisa juga dengan Photoshop
Hasilnya kira-kira seperti ini:


walau bagaimana pun, diperlukan banyak praktek & eksperimen untuk memperoleh hasil terbaik. Silakan mencoba.

Selasa, 12 April 2011

Unsur Gerak Dalam Foto

Hari Minggu, 10 April 2011, saya menghabiskan waktu di lokasi wisata Bukit Naang, Bangkinang, kabupaten kampar. Tempat ini merupakan bumi perkemahan dan tempat outbound dengan flying fox tertinggi di Sumatera. Selain permainan flying fox dari ketinggian 30 meter, ada pula permainan tree top bridge yang mengajak pengunjung merasakan kehidupan Tarzan dengan berjalan dari pohon ke pohon pada ketinggian 5 - 8 meter.

Tujuan berkunjung ke sini adalah untuk melakukan test pada lensa Minolta 75-300 mm.Secara umum, kesimpulannya lensa ini cukup tajam, respon bagus, tapi rentan terhadap fringe.

Hal lain yang cukup menarik untuk sharing adalah bagaimana unsur gerak bisa membuat foto menjadi lebih menarik & "berbicara". Ini diawali ketika saya memotret seorang gadis yang melakukan ayunan ala Tarzan. Ini fotonya:
Setting yang dipakai saat itu adalah:
  • Mode A (aperture priority)
  • ISO 200
  • f/5.6
  • Shutter speed 1/320 s
  • Autofocus mode: AF-C (continuous)
Walaupun hasilnya cukup tajam, tapi foto itu tidak memuaskan saya karena obyek terlihat hanya sekedar menggantung dan tidak bergerak. Maka selanjutnya saya coba untuk menggerakkan kamera sesuai dengan gerakan obyek. Teknik ini biasanya dikenal dengan istilah panning. Hasilnya seperti ini:
Sudah lebih menarik, tapi masih kurang dramatis. Kelihatannya 1/320 s masih terlalu cepat, jadi saya pindahkan modenya dari aperture Priority ke Shutter speed priority (mode S). Kecepatan diturunkan, dipatok di 1/60 s. Dengan metering Centre Weighted, bukaan aperture dapat f/9 atau f/10. Kamera saya gerakaan mengikuti arah gerak obyek. Hasilnya seperti ini:

 Lebih menarik kan?
Setting yang digunakan:

  • Mode S (shutterspeed priority)
  • ISO 200
  • Shutter speed 1/60 s
  • f/9.0
  • Autofocus mode: AF-C (continuous)
Jadi, untuk memotret obyek yang bergerak belum tentu harus menggunakan speed tinggi. Speed rendah bisa menghasilkan efek yang lebih menarik ... :-D

Rabu, 02 Maret 2011

"Lensa apa ya berikutnya?"

Pertanyaan di atas disampaikan oleh beberapa teman yang sudah memiliki kamera + lensa kit dan menginginkan lensa tambahan yang lebih memenuhi seleranya. Mereka menanyakan, lensa apa yang sebaiknya dibeli dan biasanya saya balik bertanya:
"Apa yang mau difoto?" atau
"Apa kekurangan yang paling terasa dari lensa kit?" atau
"Lensa seperti apa yang diinginkan?"
dan sejenisnya.

Memilih lensa menurut saya adalah preferensi pribadi, salah satu bentuk manifestasi kepribadian dan kesenangan dalam fotografi. Lensa yang cocok untuk satu orang belum tentu sesuai untuk yang lain. Misalnya ada teman yang menyarankan memakai Tamron 17-50 mm sebagai pengganti lensa kit karena lebih tajam. Tapi saya gak terlalu peduli dengan ketajaman ekstra, yang saya perlukan adalah lensa dengan tele yang cukup jauh, maka saya kemudian membeli Tamron 18-200 mm yang "katanya" tidak tajam, lelet, berat, dsb.

Namun demikian, kita bisa saja mengelompokkan lensa-lensa itu dalam beberapa kelas:
  1. Standard zoom lens merupakan lensa vario dengan jarak fokus yang dapat diubah-ubah dan bukaan maksimal aperture berubah sesuai dengan jarak fokusnya. Lensa ini cocok untuk berbagai keperluan dokumentasi pribadi. Lensa kit 18-55 mm, 18-70 mm, 28-80 mm dan sejenisnya termasuk jenis lensa ini. Karena kualitasnya seadanya, banyak yang menghendaki alternatif yang lebih baik. Misalnya:  untuk zoom range yang lebih luas bisa dipilih 18-105 mm, 28-135 mm, 28-200 mm, dst. Untuk ketajaman lebih biasanya digunakan Tamron 17-50 mm atau Carl Zeiss 16-80 mm
  2. Prime lens memiliki jarak fokus yang tetap sehingga kualitas dan ketajamannya sangat baik.Akan tetapi  fotografer harus banyak berjalan kaki untuk menyesuaikan komposisi dan proporsi foto. Lensa jenis ini di antaranya 50 mm f/1.8. Alternatifnya, misalnya 50 mm f/1.4, 50 mm f/1.2, 85 mm f/3.5, 135 mm f/4, dst.
  3. Wide lens adalah lensa dengan jarak fokus pendek sehingga diperoleh ruang pandang (FOV - Field Of View) yang lebih luas. Lensa yang termasuk jenis ini, di antaranya 10-22 mm, 11-18, dll. Pegembangan lain adalah ke lensa fishye, misalnya Samyang 8 mm.
  4. Fast lens adalah lensa dengan bukaan lebar. Lensa-lensa ini memiliki angka aperture f/2.8, f/2, f/1.8 atau lebih kecil. Keuntungannya, dengan aperture lebar, maka dapat diperoleh shutter speed yang lebih tinggi. Itulah sebabnya lensa ini memperoleh sebutan fast lens. Efek samping dari bukaan yang lebar adalah lens blur atau bokeh karena DoF (Depth of Field) yang sempit.
  5. Macro lens adalah lensa yang memiliki konstruksi khusus sehingga memungkinkan untuk memotret obyek dari jarak dekat (50 cm atau kurang). Lensa macro yang sesungguhnya memiliki kemampuan pembesaran 1:1, adapun spesifikasi yang banyak dipakai adalah 100 mm f/2.8 Macro, 50 mm f/2.8 macro, dst. Namun demikian, produsen lensa 3rd party seperti Sigma, Tamron, dan Tokina mengembangkan lensa vario dengan kemampuan makro 1:4, !:5 atau !:7, seperti misalnya Tamron 18-200 Di II LD Aspherical Macro yang memiliki jarak obyek minimum 45 cm dengan perbesaran 1:4
  6. Super tele lens adalah lensa-lensa dengan jarak fokus di atas 180 mm, misalnya 100-400 mm, 170-500 mm, dst. Lensa-lensa jenis ini cocok untuk pemotretan olahraga, alam liar, pengamatan burung, dan obyek-obyek lain yang tidak memungkinkan fotografer mendekati obyek secara langsung.

Selain dari jarak fokus dan aperture, perlu diperhatikan juga fitur tambahan pada lensa yang akan memberikan kemudahan (dengan harga yang sesuai), di antaranya:
  1. Motor lensa kualitas tinggi yang lebih responsif, sehingga menjamin ketajaman obyek yang bergerak. Lensa jenis ini biasanya memiliki kode khusus yang berbeda dari setiap pabrikan, misalnya SSM (Super Sonic Motor), HSM (High Speed Motor), DX, SAM, dsb 
  2. Image stabilizer merupakan fitur yang berguna untuk meredam guncangan pada pemotretan dengan speed rendah. Fitur ini juga memiliki kode yang berbeda-beda, misalnya IS (Image Stabilizer) pada canon, VR (Vibration Reduction) pada Nikon, SSS (Super Steady Shoot) pada Sony, dsb.
  3. Coating (bahan kimia pelapis optik lensa) merupakan faktor penting karena respon sensor digital terhadap cahaya berbeda dengan reaksi pada film. Permasalahan pada coating dapat menimbulkan flare, chromatic aberration (CA), ghosting, dsb. Lensa-lensa digital biasanya memiliki beberapa lapisan sehingga diberi tanda MC (multi coating) yang secara umum memiliki performa lebih baik dibandingkan lensa lama yang masih single coating.
  4. Aspherical merupakan konstruksi lensa yang mengandung elemen lensa aspheric dan berfungsi untuk mengurangi pembiasan spherical aberration yang disebabkan oleh bentuk lensa yang cembung.
  5. Low Dispersion adalah elemen optis yang minim dispersi (penyebaran) cahaya, sehingga intensitas cahaya yang sampai pada sensor menjadi lebih tinggi dan detil yang diperoleh lebih banyak. 
 Beberapa tulisan yang lalu tentang lensa mungkin bisa memberikan tambahan informasi:
Memilih Lensa untuk Anda
Memilih Lensa Sesuai Keperluan
Lensa Manual
Zoom Lens
Fast Lens
Prime Lens

Semoga bisa memberi pedoman untuk memilih lensa berikutnya :-)

Minggu, 20 Februari 2011

Stage Photography

Hari senin, 14 Februari 2011, saya berkesempatan menyaksikan penampilan live  permainan biola Idris sardi di Ballroom Hotel basko, Padang. Saat itu saya hanya membawa lensa all round Tamron 18-200 mm f/3.5-6.3 yang sebetulnya kurang cocok untuk  stage photography atau foto panggung. Pemotretan seperti ini memiliki tingkat kesulitan tersendiri, antara lain karena
  • Cahaya yang tidak merata
  • Penyanyi, penari, atau pemain yang selalu bergerak
  • Jarak yang jauh antara fotografer dan panggung
  • Waktu yang terbatas

Idealnya, untuk melakukan pemotretan seperti ini digunakan:lensa dengan jarak fokus cukup panjang (135 mm atau lebih) dan aperture lebar (f/2.8, f/2 atau lebih besar lagi). Fitur image stabilizer dan sejenisnya akan sangat membantu.

Beberapa hal yang perlu dilakukan jika hendak melakukan pemotretan penampilan di panggung:
  1. Datang lebih awal, tujuannya untuk melakukan survei lokasi & memperoleh tempat terbaik untuk memotret. selama pertunjukan, mungkin Anda tidak dapat berpindah tempat karena penuh, jadi pastikan untuk memproleh tempat terbaik sejak awal.
  2. Sedekat mungkin dengan panggung, tujuannya agar pemotretan tidak terhalang oleh pemirsa atau aktivitas lainnya. Jarak juga berpengaruh pada pencahayaan dan ketepatan fokus
  3. Gunakan shutter speed priority, (mode S atau Tv)  tujuannya agar diperoleh kecepatan yang cukup untuk mencegah motion blur akibat gerakan penampil. Idealnya, diperlukan speed 1/40 s atau lebih cepat. Usahakan untuk memperoleh speed ini dengan menggunakan bukaan terlebar dan naikkan ISO secukupnya,  Pemilihan speed yang tepat juga bisa menampilkan gerakan (motion blur) di  panggung.
  4. Metering centre weighted, disebabkan biasanya lokasi di sekitar penampil utama memperoleh penerangan lebih kuat sedangkan lokasi lain cenderung gelap. Average atau matrix metering akan beresiko over-exposed pada penampil utama sedangkan spot metering justru akan menyebabkan bagian lain panggung terlalu gelap (under-exposed)
  5. Jangan menggunakan flash, karena penggunaan flash mungkin mengganggu konsentrasi penampil dan mengurangi suasana pencahayaan panggung yang sesungguhnya (ambience). Penggunaan flash juga beresiko interferensi dengan flash lain sehingga foto menjadi gelap. Lebih baik menggunakan ISO tinggi (800 , atau lebih)  untuk memperoleh foto yang lebih mendekati kenyataan.
  6. Custom White Balance, pencahayaan panggung yang berubah-ubah sering mengacaukan fungsi AWB, oleh karena itu sebaiknya gunakan Custom White Balance dengan menggunakan Grey Card atau lakukan setting Kelvin WB pada 2900-3600 K.
  7. Manual fokus, diperlukan jika lensa tidak dilengkapi USM atau SSM yang memungkinkan respon cepat. Penampil yang selalu bergerak dan pencahayaan yang tidak merata sering menyulitkan reaksi lensa sehingga banyak momen terlewat.
  8. Potret sebanyak-banyaknya,  merupakan kiat untuk memperoleh lebih banyak potensi momen terbaik. Manfaatkan waktu Anda untuk memperoleh lebih banyak foto & jangan habiskan untuk me-review (monkeying). Review singkat diperlukan untuk memperoleh setting yang tepat, selain itu gunakan untuk memotret.
Apabila memungkinkan, potretlah penampil saat bersiap naik ke panggung atau saat istirahat. Pada situasi di luar panggung, ada lebih banyak kesempatan memperoleh foto yang tajam dengan ekspresi yang menarik.

Karena ketidaksesuaian lensa, pemotretan penampilan di panggung malam itu hasilnya kurang memuaskan, untunglah ada kesempatan untuk memotret Mas Idris saat ngobrol makan malam. Yang lebih menarik, obrolan dengan Mas Idris & keluarga malam itu memberikan saya banyak hal untuk direnungkan & dipraktekkan. Berbagai topik mengenai perjalanan hidup, sikap bersyukur & optimis, serta nasionalisme disampaikan secara ringan oleh Mas Idris.

Karena blog ini khusus mengenai fotografi, silakan klik link berikut untuk membaca lebih lanjut obrolan dengan mas Idris:
 Belajar Tentang Hidup Bersama Idris Sardi

Kamis, 10 Februari 2011

Photographer's Notes - Shot List

Ini sebetulnya sebagian dari percakapan saya dengan fotografer senior Aryono Huboyo Djati (AHD) di Mall Ambassador beberapa bulan lalu. Baru terpikir untuk menuliskannya ketika seorang teman mengeluh selalu ketinggalan momen sewaktu hunting Street Photography.

Masalahnya adalah, teman tersaebut tidak mengantisipasi, momen apa yang mungkin dia temui dalam suatu lokasi di waktu tertentu. Akibatnya, dia gagal mengantisipasi setiap momen karena masih berkutat dengan setting kamera saat sesuatu terjadi. Dia juga tidak sempat berinteraksi untuk mengkondisikan subyek agar cocok dengan konsep. Fotografi adalah sebuah proses. sebagaimana semua profesi yang lain, seorang fotografer tidak dapat mengandalkan kebetulan tetapi harus berusaha untuk mendapatkan momen yang terbaik dengan properti yang tersedia. Itulah perlunya memiliki Photographer's Notes atau Shot List.

Photographer Notes atau Shot List adalah sebuah catatan yang berisi konsep atau sketsa kondisi yang bisa ditemui dalam sebuah proses hunting atau sesi foto. Dalam catatan ini fotografer - berdasarkan pengalaman atau eksplorasinya - sudah memperkirakan momen apa saja yang dapat terjadi dengan memperhitungkan kondisi lokasi, cuaca, dan berbagai faktor lainnya. Sebagai seorang fotografer yang banyak berkarya dalam kategori human interest, AHD beberapa kali menyebutkan bahwa human interest ataupun street photography tidaklah sama dengan candid

AHD waktu itu memberi contoh:
Lokasi pemotretan: Jembatan Penyeberangan
Waktu: Siang hari menjelang sore
Dari data tersebut, maka dibuat pemetaan yang lebih spesifik untuk dieksplorasi, misalnya:
(1) Bagian mana dari jembatan yang akan dimanfaatkan: tiangnya, tangganya, di atas jembatan dsb
(2) Siapa subyek yang dapat ditemui: anak-anak, gadis remaja, nenek tua, dsb
(3) Sedang apa subyek saat itu: berjalan, menunggu, berjualan, dsb
(4) Faktor highlight & bayangan
(5) dsb

Tambahan dari AHD setelah membaca artikel ini, tentang pentingnya konsep:
 "konsistensi terhadap tema yg mau difoto, semisal di jembatan penyeberangan banyak yg bagus utk direkam,... dalam prakteknya kita kudu targetin semisal 'kaki2 penyeberang',... kalo toh nantinya diantara kaki2 ada pengemis tertidur,... anggap saja bonus dari variant kaki2 dimaksud"

(dikirim via Facebook, matur nuwun sanget untuk tambahan ilmunya) 

AHD juga memberikan link sebagai bahan bacaan tambahan: Lihat Sekitar & Lebih Sensitif

Dari contoh tersebut, kita dapat mengembangkannya ke berbagai lokasi lain, seperti: lampu lalu lintas, taman kota, monumen, museum, dsb. Kalau perlu, kita dapat melakukan conditioning, mengkondisikan subyek agar berada di lokasi terbaik pada waktu yang paling tepat. Survei sebelum pemotretan tentu akan memberi manfaat yang besar. Seringkali seorang fotografer harus datang lagi ke suatu tempat untuk memperoleh momen yang terbaik. Dengan langkah-langkah dan persiapan yang baik, maka kita tidak perlu membuang terlalu banyak frame untuk foto-foto yang kurang memuaskan.

Catatan ini juga dapat dipelajari & dievaluasi kembali sehingga fotografer semakin terlatih & tanggap terhadap kondisi sekelilingnya. Oleh karena itu, saya setuju sekali dengan kutipan yang digunakan Frunze (seorang rekan di komunitas Alpharian) dalam signature-nya: "Fotografer sejati adalah Fotografer yang mau menghargai sebuah foto tidak hanya dari hasilnya, tetapi juga prosesnya."

Keep jepret!
Salam  :) 

Senin, 24 Januari 2011

Macro dengan Extension Tube

Fotografi makro merupakan kategori yang menarik bagi banyak orang. Banyak alternatif untuk membuat foto makro, sebagaimana yang sudah saya tulis dalam artikel terdahulu, atau menggunakan reversed lens seperti yg dilakukan rekan saya Roi Rungkadi Ismail dan Adrianus Juniarno. Artikel & diskusi lengkap silakan di-klik ke Fotografer.Net
Reversed lens & flash diffuser by Roi Ismail
 Reversed lens by Adrianus Juniarno

Extension Tube merupakan alat tambahan yang murah & efektif untuk foto macro. Prinsip dasar alat ini adalah menjauhkan jarak lensa dari kamera, sehingga bayangan obyek paling tajam jatuh pada R3, yaitu jarak antara 2f dan tak hingga (f = focal length, jarak fokus lensa). Efeknya, image yang diterima oleh sensor adalah sama atau lebih besar daripada obyek aslinya.
Dengan prinsip seperti di atas, extension tube dapat dibuat sendiri dengan menggunakan berbagai macam tabung, di seperti pipa paralon, tutup botol hairspray, kaleng minuman ringan, dsb sepanjang diameternya cocok dengan lensa yang akan kita gunakan. Pada test kali ini, saya menggunakan lensa M42 dengan extension tube yang saya beli dari Mas Teguh (paijo43) di bursa Alpharian.com seharga Rp 100.000. bentuk barangnya seperti ini:
Extension tube ini terdiri dari 3 bagian, yaitu tabung 1 cm, 2 cm, dan 4 cm. Kita bisa mengkombinasikan pemakaiannya sehingga diperoleh variasi jarak antara 1 cm s.d 7 cm. Extension tube ini saya pasangkan pada lensa Helios 2/58 M44-2 seperti ini:
Lalu dipasangkan pada kamera Sony a200 seperti ini:
Hasilnya, lensa Helios M44-2 yang memiliki jarak obyek normal minimum 48 cm, dengan berbagai kombinasi dapat memotret obyek pada jarak 7 s.d 20 cm. Keuntungan dari penggunaan macro extension tube dibandingkan metode yang lain adalah:
  1. Pemasangan yang mudah
  2. Dapat dikombinasi sedemikian untuk memperoleh jarak ideal
  3. Tidak memiliki elemen optik sehingga tidak mempengaruhi kualitas lensa
Namun demikian, macro extension tube tetap memiliki kelemahan, yaitu:
  1. Focusing ring tidak bekerja, kamera harus digerakkan maju mundur untuk memperoleh hasil paling tajam
  2. F-stop turun 1-2 stop tergantung panjang tube yang digunakan
Hasil pemotretan dengan extension tube sebagai berikut:
Obyek test 
Jarak terdekat normal: 48 cm
  Sony A200 + Helios + Macro ext 1 cm
  Sony A200 + Helios + Macro ext 3 cm
Sony A200 + Helios + Macro ext 7 cm 
Selamat mencoba

Minggu, 09 Januari 2011

Prosumer Superzoom Masih Tetap Menarik

Walaupun kamera DSLR semakin terjangkau dan banyak inovasi dari kamera tanpa cermin yang ringkas, tetapi produk prosumer superzoom tetap menarik minat para pehobi fotografi. Dari catatan di blog ini saja, tanggapan untuk artikel Kamera Superzoom 2 Jutaan masih terus muncul. Saya, dengan berbagai pertimbangan, terpaksa mengabaikan beberapa pertanyaan yang pada dasarnya sudah pernah ditanyakan.
Paling tidak, ada 5 keunggulan dari kamera prosumer superzoom ini:
1. Range fokus lensa yang lebar, cocok dipakai di berbagai kesempatan
2. Bentuk yang ringkas
3. Bobot yang ringan
4. Keleluasaan setting (P, A, S, M dan Scene program)
5.  Harga yang terjangkau
Sudah tentu tiada gading yang tak retak, semua produk mempunyai kelemahan. Sensor yang kecil akan memberi keterbatasan dalam kondisi cahaya yang kurang (lowlight) dan penggunaan ISO tinggi. Namun jika Anda penyuka fotografi makro, kamera prosumer superzoom ini sangat menguntungkan, silakan lihat artikel Close Up Macro Photography dan beberapa artikel tentang macro lainnya.

Perkembangan teknologi dan munculnya produk-produk baru membuat pilihan yang tertulis dalam artikel sebelumnya menjadi out-of-date . Jika Anda bermaksud membeli prosumer superzoom saat tulisan ini dibuat, beberapa pilihan di kisaran harga Rp 2.000.000 yang dapat dipertimbangkan adalah:
- Canon SX130 IS atau SX210IS
- Casio exilim EX-H5
- Fujifilm S1600, S1800, S1900, S2500, S2550, S2800
- Nikon L110, P8000, P9100
- Olympus SP600UZ
- Panasonic Lumix TZ7, FZ28
- Sony H55

Mungkin masih ada yang lain belum tertulis, tapi saya yakin alternatif pilihan yang sudah disebut di atas itu cukup membingungkan Anda untuk memilih salah satu yang paling cocok ...hehehe ...
Penekanannya, pilih yang paling cocok.  Kenapa bukan yang terbaik?
Karena yang terbaik mungkin tidak tersedia di lokasi Anda. mungkin pula harganya tak terjangkau, dsb. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah pilih kamera yang bergaransi resmi dan service point-nya mudah dijangkau dari lokasi Anda. Ini akan memudahkan Anda jika ada kesulitan atau masalah pada unit yang Anda beli.

Rabu, 15 Desember 2010

Drybox Alternatif

Seiring dengan pertambahan peralatan memotret, mulai terasa penuhnya tas yang biasa saya bawa. Saat ini, secara keseluruhan ada 4 kamera digital (1 DSLR, 2 prosumer, 1 poket), 1 kamera SLR, 6 lensa, 2 flash, ditambah berbagai filter. Yang jelas, tidak semuanya dibawa kalau mau motret. Artinya, harus ada tempat penyimpanan untuk alat-alat yang sedang tidak digunakan.

Drybox atau dry cabinet tentunya merupakan jawaban yang paling logis untuk tempat penyimpanan ini. Tapi tahu sendiri kan, berapa harganya barang itu? Jadi sebagai alternatif, saya pergi ke Ace Hardware untuk membeli:
1 unit storage container plastic with handle
ukuran 28 cm x 40 cm x 28 cm, harga Rp 48.000
1 kitchen tray plastic
ukuran 28 cm x 22 cm x 15 cm, harga Rp 12.000


Untuk menjamin agar di dalam box tersebut tetap kering dan memantau suhunya, saya hubungi seller di sebuah bursa fotografi untuk membeli sepaket perlengkapan senilai Rp 140.000 yang berisi:
1 higrometer
1 termometer
1 kg silica gel biru

Awalnya saya bermaksud membeli silica gel elektrik yang bisa recycle, tapi barangnya tidak tersedia, jadi untuk sementara saya pikir silica gel biru cukuplah. Paket silica gel biru ini datang bersama 50 buah kantong plastik kecil, jadi setiap kantong kecil bisa diisi 20 gr. Kantong kecil yang sudah diisi silica gel harus dilubangi/ ditusuk-tusuk dengan jarum jika akan digunakan. Biasanya setiap kantong saya beri 10 lubang dan saya letakkan 2 atau 3 kantong dalam box. Silica gel harus diganti jika warna biru memudar menjadi merah atau bening.

Untuk pengujian awal, kotak saya bersihkan lalu saya letakkan termometer dan higrometer dan kotak ditutup. Setelah 15 menit, saya tengok kembali dan melihat bahwa temperatur di dalamnya adalah 28 derajat Celcius dengan kelembaban 80%. Masih belum cocok untuk menyimpan lensa-lensa.

Lalu saya letakkan 2 bungkus silica gel, kotak ditutup dan didiamkan selama 2 jam. Setelah saya tengok kembali, ternyata suhu tetap 28 derajat Celcius, tetapi kelembaban turun hingga 50%. sebagaimana tampak pada foto berikut


Sippp, jadilah lensa-lensa mulai saya tata di dalam kotak tersebut. Tray plastik ukuran 28 cm x 22 cm x 15 cm sengaja saya beli sehingga ada ruang khusus untuk menempatkan lensa secara terpisah dari peralatan lain.
Dua jam kemudian, saya cek kembali, ternyata temperatur dan kelembanban menunjukkan angka 28 derajat Celcius dan 40%. Alhamdulillah, jadi aman. Total biaya yang dikeluarkan untuk pembelian barang adalah Rp 200.000. Biar murah, yang penting efektif.

Yang memerlukan paket termometer, higrometer, dan silica gel, bisa klik link ini:
Hygrometer+Thermometer+Silica Gel

Sabtu, 11 Desember 2010

Close Up/ Macro Photography: DSLR vs Prosumer

Beberapa rekan tertarik untuk menekuni dunia kecil yang biasa dikenal dengan close-up photography atau lebih populer dengan istilah makro, akan tetapi merasa bahwa alatnya belum mencukupi. Padahal sebetulnya untuk foto-foto close-up, tidak diperlukan peralatan yang terlalu canggih. Kamera poket pun bisa digunakan untuk foto makro, bahkan punya beberapa kaunggulan karena adanya live-view dan DoF yg lebar (baca catatan saya sebelumnya tentang Aperture di kamera DSLR, prosumer dan poket)


Jika foto obyek yang diperoleh dirasa kurang besar, bisa ditambahkan close-up filter. Ada beberapa pilihan untuk tambahan filter ini:
1. Filter high-end sejenis Raynox Supermacro Scan DCR 250 (harga Rp 900rb)
2. Filter close-up Kenko +1, +2, +4 atau sejenisnya (Rp 200-800rb, tergantung ukuran ring)
3. Membuat sendiri (harga bervariasi, tergantung kreativitas)

Pada kesempatan ini saya coba bandingkan hasil foto close-up pada sebuah obyek berukuran 5 mm x 50 mm. Pemotretan dilakukan di dalam ruangan dengan cahaya dari lampu baca ditambah dengan kertas putih sebagai reflektor. Obyek ditempatkan pada sebuah meja kecil seperti ini:

Untuk memberi gambaran ukuran obyek yang sebenarnya, silakan perhatikan foto saat pemotretan dilakukan dengan cara seperti ini:

Hasil yang diperoleh:
1. Kamera prosumer Canon SX 20 IS ditambah filter close-up buatan sendiri

2. Kamera Sony A200 + Tamron 18-200 mm + Raynox DCR 250

Kedua kamera memiliki resolusi tertinggi 10 MP. Kamera prosumer Canon SX20 IS pada dasarnya tidak berbeda dengan poket karena sama-sama menggunakan sensor 1/2.5 in. Kamera Sony A200 adalah DSLR entry level dengan sensor APS-C. Dari kedua foto di atas tampak bahwa tidak ada perbedaan signifikan selama intensitas cahaya cukup.

Filter close-up yang dipasang pada Canon SX 20 IS adalah lensa cembung yang diambil dari sebuah lensa lama dan dipasang pada ring filter 52 mm, sehingga bisa dipasang pada thread lensa kamera. Lensa untuk filter ini, bisa juga menggunakan kaca pembesar atau lup. Jadi jika dinilai harganya mungkin Rp 100rb atau kurang.

Motret makro pakai poket? Siapa takut .... :-)

Rabu, 08 Desember 2010

Pilihan Lensa Vario



Bulan lalu lensa kit Sony DT 18-70 mm yang biasa terpasang di kamera rusak gear motonya, akibatnya setiap digunakan lensa itu berbunyi "rrrrr ...." dan sering ga dapat fokus. Sewaktu dbawa ke service centre, perkiraan biaya perbaikannya adalah Rp 500.000 dengan waktu perbaikan sekitar 2 minggu, yang artinya sama dengan harga lensa kit 2nd. Akan tetapi, mengingat kasus kerusakan gear tersebut cukup sering terjadi pada lensa kit (ada resiko lensa yang baru dibeli nantinya rusak lagi), akhirnya saya memutuskan untuk membeli lensa Minolta 28-80 Macro sebagai pengganti.

Walaupun lensa pengganti ini tidak sepenuhnya "digital design", tetapi saya menyukai adanya petunjuk jarak obyek yang memudahkan kita untuk melakukan focusing secara manual. Selain itu, lensa ini juga dilengkapi dengan fitur macro pada FL 80 mm, memberi hasil yang lebih menarik daripada lensa kit pada FL 70. Namun demikian, pada mode makro focusing harus dilakukan secara manual.


Tidak berselang lama, saya mendapat tawaran lensa sapujagad, yaitu Tamron 18-200 mm Di-II LD XR Aspherical Macro. Dengan memperhitungkan crop factor 1.5x. lensa ini pada dasarnya memiliki range yang seimbang dengan lensa sapujagad Sigma 28-300 mm yang pernah saya pakai bersama kamera Canon EOS 1000 FN (analog) bertahun-tahun yang lalu. Namun demikian, setelah melakukan beberapa kali tes, saya menemukan kelebihan & kekurangan dari setiap lensa yang ada.

Lensa Tamron 18-200 memang unggul dalam range sehingga praktis untuk dibawa dalam berbagai kesempatan. Tapi lensa ini bukannya tanpa kelemahan. Beberapa hal yang saya rasakan:
1. Distorsi di bagian tepi gambar pada posisi wide end (18 mm)
2. Ketajaman yang cenderung soft pada tele-end.
3. Respon yang lebih lambat

Lambatnya respon saat pencarian fokus kelihatannya disebabkan oleh berat lensa tersebut. Oleh karena itu saya tetap mempertahankan kedua lensa Minolta yang sudah saya miliki meskipun focus range-nya sudah tercover oleh si Tammy.

Lebih lengkap mengenai Tamron 18-200mm Di II LD XR Aspherical macro, silakan klik:




Selasa, 09 November 2010

HDR Photography 02

Setelah memperoleh "bahan" untuk diolah dengan teknik HDR, langkah selanjutnya adalah menggunakan software untuk melakukan proses. Beberapa software yang dapat digunakan adalah:
1. Adobe Photoshop (dengan File > Automate > Merge to HDR)
2. Photomatix / Pro
3. Nik Software - HDR Efex Pro
4. Dynamic Photo HDRi
5. dan lain-lain

Pada kesempatan ini saya memakai aplikasi Dynamic Photo HDRi. Bagi Anda yang tertarik untuk mencoba menggunakan software ini, silakan kunjungi: http://dynamic-photo-hdr.en.softonic.com/  untuk mendownload.
Setelah aplikasi ini Anda isntall pada komputer, jalankan sehingga diperoleh tampilan seperti berikut:
Untuk memulai proses pembuatan foto HDR, klik tombol Create HDR file pada kolom kanan paling atas
.
Selanjutnya, klik tombol Add Images di atas kotak paling kiri pada pop-up window dan pilih file yang akan diolah dengan melakukan selection pada 3 file  yang dimaksud, lalu klik Open.

Selanjutnya akan source file dan preview hasil proses akan ditunjukkan pada kotak tengah dan kanan. Untuk melanjutkan proses, Anda dapat melakukan penyesuaian pada preview, atau langsung klik OK

Tahap selanjutnya adalah alignment. Jika Anda menggunakan tripod saat memotret, alignment mungkin tidak diperlukan, Anda tinggal klik tombol Align Files di kolom kanan untuk setiap kombinasi gambar. Jika alignment otomatis tidak berhasil, Anda dapat melakukannya secara manual dengan slider vertical, horisontal dan rotation di kolom kanan bawah.

Setelah proses alignment selesai, klik OK. Anda akan dibawa kembali ke window utama dengan preview file yang dipilih. Selanjutnya klik tombol Tone Map HDR pada kolom sebelah kanan. 

Langkah ini akan memunculkan window baru untuk proses Tone Mapping dan sebuah window lain yang berisi Quick Guide sebagai petunjuk proses tone mapping. Anda dapat mengklik OK untuk menutup Quick Guide atau F1 untuk memunculkannya kembali.

Dynamic Photo HDRI menyediakan beberapa mode Tone Mapping yang dapat dipilih pada kolom kiri atas dan fine tuning dengan beberapa slider di kolom kiri bawah. Mode yang tersedia adalah:
>; Eye Catching
>; Ultra Contrast
>; Smooth Processing
>; Photographic
>; Human Eye
Anda bisa mencobanya satu persatu untuk mengetahui perbedaannya. Perubahan ini dapat dilihat pengaruhnya pada preview di kolom tengah. Setelah menentukan mode HDR, pengaturan lebih detil bisa dilakukan dengan slider di kolom kiri bawah dan kolom kanan.

Jika Anda sudah memperoleh file HDR yang sesuai dengan selera, selanjutnya klik tombol Process di kiri bawah. Pilihannya adalah:
>; Process and Save untuk langsung menyimpan file HDR yang telah selesai
>; Process and Edit untuk melanjutkan editing gambar dengan aplikasi Photo Bee



Selamat berkreasi!


HDR Photography 01

Foto HDR biasanya digunakan pada obyek pemotretan dengan kontras cahaya yang lebar. Misalnya obyek yang berwarna gelap dengan latar belakang langit biru pada siang hari, atau sebaliknya obyek dengan lampu berwarna-warni di malam hari.

Pada obyek seperti ini, perbedaan kontras antara daerah shadow dan highlight menyebabkan hilangnya detil pada salah satu aspek. Metering di daerah shadow akan menyebabkan bagian highlight menjadi overexposed dan menghilangkan sebagian detil. Sebaliknya, metering pada bagian highlight menyebabkan hilangnya detil pada area shadow akibat underexposed.  Oleh karena itu, untuk merekam semua detil dilakukan beberapa kali pemotretan untuk merekam detil dari masing-masing daerah yang kemudian digabungkan dalam 1 (satu) gambar.

Untuk membuat foto HDR, prosesnya terdiri dari proses pengambilan gambar dan proses olah digital. Tulisa ini akan berfokus pada proses pengambilan gambarnya dahulu.

Pengambilan gambar dilakukan dengan menggunakan mode BRACKETING - yaitu mengambil 3 atau lebih foto berturut-turut dengan EXPOSURE VALUE yang berbeda-beda. Mode bracketing ini biasanya berada pada menu drive mode, dan dapat diatur melalui tombol akses atau di dalam menu. Contohnya seperti ini:
Foto: Drive Mode Button pada kamera Kodak C533


Foto: Drive mode Bracketing pada menu Sony A200 dengan EV +0.7


Pemotretan dengan mode bracketing akan menghasilkan 3 gambar atau lebih dengan nilai exposure yang dapat diatur antara (+-)0,3 hingga (+-)2.0, bergantung pada jenis kamera yang digunakan. Contoh hasil foto dengan mode bracketing ditunjukkan pada foto-foto berikut:
Contoh foto dengan mode bracketing, klik gambar untuk tampilan lebih besar

Beberapa tips untuk pemotretan dengan mode bracketing:
1. Pilih obyek dan latar belakang yang memiliki detil
2. Setting kamera:
-- (a) Exposure mode P, A, M
-- (b) WB Auto atau Daylight
-- (c) Metering average, multi segment atau centre weighted
-- (d) Lakukan metering pada midtone
-- (e) Gunakan aperture sempit f/8, f/11 dst
3. Lakukan metering pada midtone
4. Hindari obyek yang bergerak
5. Sebaiknya gunakan tripod atau monopod

Jika sudah diperoleh gambar dengan exposure value yang berbeda seperti di atas, maka selanjutnya adalah proses olah digital.

Jumat, 29 Oktober 2010

Masalah Focusing

Sistem auto-focus pada kamera digital kadang-kadang mengalami kesulitan dalam menentukan focus secara tepat. Cahaya yang kurang atau permukaan yang gelap & tidak memantulkan cahaya menyebabkan lensa terus menerus bergerak tanpa dapat menemukan focus yang benar (hunting).
Para pengguna kamera DSLR dapat dengan mudah mengatasi masalah ini dengan memindahkan tombol AF ke MF (manual focus), tapi banyak tipe kamera digital kompak tidak memiliki fitur ini. Berikut beberapa teknik yang mungkin dapat membantu:
(1)    Cari sumber cahaya dengan jarak yang sama
Pada kondisi yang kurang cahaya, kamera akan lebih mudah melakukan focusing pada obyek yang terang. Jadi, jika ada obyek yang memancarkan cahaya pada jarak yang sama, lakukan focusing pada sumber tersebut, tekan setengah shutter dan lakukan rekomposisi menuju obyek yang dimaksud.
(2)    Gunakan laser pointer
Ide menggunakan laser pointer muncul setelah melihat film Expendables dan memperhatikan focusing assist light pada kamera yang memancarkan setitik cahaya berwarna merah. Kamera Sony A200 yang saya gunakan kebetulan tidak memiliki focusing assist light terpisah sehingga untuk focusing di ruang gelap, flash internal harus diaktifkan. Menggantikan flash tersebut dengan sebuah senter LED tidak member hasil yang memuaskan, jadi saya coba dengan laser pointer. Dan BERHASIL! Cahaya merah yang jatuh pada obyek dengan segera dikenali dan direspon oleh system autofocus pada kamera. Jadi, sekarang saya menggunakan gantungan kunci dan membawa ballpoint yang sekaligus berfungsi sebagai laser pointer J

(3)    Letakkan benda lain yang memantulkan cahaya di dekat obyek
Ide ini muncul ketika menyadari bahwa kain pelapis kursi yang saya gunakan membungungkan kamera karena menyerap dan tidak memantulkan cahaya sebagaimana mestinya. 
Saya berhasil memotretnya dengan manual focusing sebagaimana pada foto berikut:
Tetapi rupanya lebih mudah jika saya letakkan benda lain dan melakukan rekomposisi. Perhatikan safety 
glasses warna kuning yang saya letakkan di atas kursi sebagai focusing point. 
Teknik ini bias digunakan secara efektif dengan kamera yang tidak memiliki fasilitas manual focus 

Gunakan aperture sempit

Teknik di atas diperlukan untuk pemotretan obyek diam di ruang dengan cahaya minim. Pada pemotretan di luar ruang yang cukup cahaya dengan obyek yang bergerak, penggunaan bukaan aperture sempit (angka f/ tinggi) merupakan cara yang lebih efektif. Dengan aperture sempit, daerah tajam menjadi cukup lebar sehingga obyek dapat tampil tajam. Jika cahaya cukup, penggunaan shutter speed tinggi akan menghasilkan foto yang lebih bagus lagi.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Mode M Bukan Keharusan

Mode M merupakan salah satu fitur yang hanya terdapat pada kamera DSLR dan kamera kompak high-end. Mode yang ini menyerahkan segala keputusan exposure setting pada fotografer dan sering dianggap sebagai ukuran ketinggian ilmu seorang fotografer. Banyak peminat fotografi yang baru membeli kamera prosumer atau DSLR mengirimkan pesan sejenis ini:
“Mas, kasih tau dong, untuk mode M itu berapa setting yang pas supaya dapat foto yang bagus?”

Terus terang, saya jarang pakai mode M. Buat saya, penggunaan mode M bukanlah suatu keharusan.  Saya lebih menganggapnya sebagai “jurus pamungkas”, jurus yang beresiko tinggi dan tidak perlu digunakan kecuali pada kondisi yang memaksa dan penggunaan mode lain tidak dapat memperoleh hasil yang diharapkan. Penggunaan mode M menuntut fotografer untuk selalu mengevaluasi setting yang dipakai dan ini dapat memecah perhatian.

Sebagaimana ditulis dalam catatan sebelumnya, fotografer sebaiknya berfokus pada 3 hal yang tidak dapat diputuskan oleh kamera, yaitu:
(1)    Momen
(2)    Angle
(3)    Komposisi
Adapun untuk metering dan setting dapat diserahkan pada kamera dengan mengacu pada hasil yang kita harapkan. Misalnya, Anda hendak melakukan panning atau freezing pada obyek yang bergerak. Dalam hal ini setting speed shutter akan menjadi penentu pada foto yang dihasilkan. Jadi, gunakan mode S / Tv dan pilihlah shutter speed yang sesuai, serahkan setting aperture pada kamera.  Dalam kasus lain, setting aperture akan menentukan saat  Anda menghendaki foto landscape yang tajam dari latar depan hingga pegunungan di latar belakang atau justru menghendaki DoF yang sempit pada sesi pemotretan model. Makas gunakan mode A / Av, tentukan setting aperture dan serahkan setting speed pada kamera.

Saya sendiri biasanya menghindari penggunaan mode M karena  “menyimpan” setting yang paling sering dipakai pada mode S dan A.  Mode M baru digunakan pada kondisi pemotretan yang “sulit”, yaitu ketika metering kamera menghasilkan gambar tidak sesuai dengan harapan, misalnya:

(1)    Memotret sunset atau sunrise
Cahaya matahari yang sedang terbit atau terbenam akan memberikan pantulan  warna yang indah di langit. Cahaya ini belum cukup menerangi bumi sehingga sebagian besar daratan akan tetap tampak gelap.
Untuk mengabadikan momen ini, diperlukan shutter speed cepat (1/250 atau lebih tinggi) dan bukaan aperture sempit (f/8 atau f/11 atau lebih tinggi). Ini berlawanan dengan karakter kamera yang akan mengkompensasi bukaan aperture sempit dengan speed rendah, jadi metering tidak dapat diserahkan pada kamera.

(2)    Memotret bulan
Bulan adalah benda yang memantulkan cahaya pada saat langit gelap. Cahaya bulan akan tetap dianggap “kurang kuat” oleh kamera sehingga hasil metering akan menghasilkan speed lambat dan bukaan lebar. Padahal, sesungguhnya bulan bergerak terhadap bumi dan terletak pada jarak yang jauh, sehingga untuk memotretnya harus dilakukan dengan speed tinggi (1/200 atau lebih cepat) dan aperture sempit (f/11 atau lebih tinggi).

Dalam kondisi yang tidak sesuai dengan karakter kamera itulah kita HARUS menggunakan mode M. Tentu masih ada kondisi-kondisi lain yang memerlukan setting khusus yang diperoleh dari pengalaman karena tidak pernah ada 2 fotografer yang menghasilkan foto yang persis sama.
Patokan mudah untuk memperoleh setting mode M:
(1)    Potret dengan mode P
(2)    Review dan putuskan tindakan yang harus diambil (under atau over)
(3)    Putuskan besaran yang akan dipertahankan shutter speed atau aperture
(4)    Pindah ke mode M, pertahankan setting salah satu besaran dan sesuaikan besaran lainnya.

Respon Cepat dengan Priority Setting

Dalam berbagai kesempatan, fotografer perlu bertindak seperti seorang Manajer:
“Delegasikan tugas kepada staf yang berkompeten”

Kamera digital saat ini sesungguhnya merupakan sebuah computer super mini yang memproses pengolahan data cahaya menjadi gambar sesuai dengan “kecerdasan” yang ditanam di dalam sistemnya. Namun demikian ada 3 hal yang tidak dapat diputuskan oleh kamera Anda, yaitu:
(1)    Momen
Kamera Anda dapat melakukan focusing dan metering, namun tidak dapat menentukan “kapan” shutter harus dilepaskan.
(2)    Angle
Perubahan sudut pengambilan gambar akan mengubah arah cahaya dankeseimbangan terang & gelap dan menghasilkan mood  yang berbeda. Ini juga mempengaruhi tampilan subyek yang dapat menimbulkan kesan sederhana, agung atau arogan. Ini tidak ada referensinya dengan program dalam kamera.
(3)    Komposisi
Susunan elemen-elemen merupakan rangkaian pesan yang hendak disampaikan. Ini juga tidak dapat dipahami oleh kecerdasan kamera.

Faktor-faktor itulah yang akan menegaskan pesan, menentukan nilai “rasa” dan “seni” sebuah foto.  Jadi, fokuslah pada ketiga hal di atas dan serahkan pekerjaan lain pada “kecerdasan” kamera Anda, kecuali jika keadaan sedemikian sulitnya, barulah sang Manajer turun tangan menyelesaikan masalah.
Sebagai manajer, Anda bisa menugaskan staf untuk melakukan tugas dengan cara tertentu sehingga target tercapai secara efektif dan efisien. Seorang fotografer dapat memanfaatkan setting yang tersimpan pada beberapa mode untuk memperoleh akses cepat dalam menyesuaikan perbahan kondisi pemotretan. Pada mode priority setting (S/ Tv dan A / Av) kamera akan mengkompensasi perubahan yang dilakukan pada salah satu setting dengan menggerakkan setting lain kea rah berlawanan. Misalnya:

Kondisi awal:  ISO 200, shutter speed 1/125, aperture f/8
Perubahan aperture menjadi f/6.3 akan dikompensasi oleh kamera dengan mengubah shutter speed menjadi 1/200
Perubahan speed menjadi 1/60 akan dikompensasi oleh kamera dengan mengubah aperture menjadi f/11

Dengan pemahaman tabiat kamera seperti di atas, saya terbiasa untuk menyimpan setting shutter priority (S, Tv) pada posisi berlawanan dengan setting  aperture priority (A, Av). Untuk melakukan hal ini, kita dapat mengacu pada konsep BDE (Bright Daylight Exposure), yaitu
ISO 200, speed 1/250, f/16 atau ISO 100, speed 1/125, f/16

BDE ini juga yang menjadi acuan kamera untuk menentukan setting pada mode P dan dikompensasi berdasarkan kondisi pencahayaan saat dilakukan metering. Artinya, dengan sekali melakukan test pada mode P, Anda dapat menentukan setting pada mode S / Tv atau A / Av untuk mempercepat akses.
Misalkan, hasil pemotretan pada mode P menghasilkan setting ISO 100, speed 1/125, f/8 maka saya akan melakukan setting mode S / Tv pada 1/30 dan A / Av pada f/4 atau S/ Tv pada 1/500 dan A / Av pada f/16. Dengan setting ini kita akan memperoleh setting 2 stop dengan hanya sekali memnggerakkan tombol.

Contohnya begini:
Sesi pemotretan:  Balap motor
Lokasi: Outdoor
Light: Ambience
Waktu: 08.00 – 15.00
Kemungkinan pemotretan yang akan terjadi:
1.       Action, memotret motor yang bergerak dengan kecepatan tinggi dan perlu melakukan freezing à dicapai dengan memindahkan mode ke Scene Program Sport
2.       Panning, memotret motor yang bergerak cepat dengan latar belakang motion blurred à dicapai dengan mode S / Tv (shutter priority) pada speed 1/60 atau 1/80
3.       Portrait, untuk memotret para pembalap atau umbrella girl dengan DOF sempit dan latar belakang blurred à dicapai dengan mode A pada aperture lebar. f/4 atau lebih rendah

Tips - Jangan Ketinggalan Momen

Ini pertanyaan yang sering saya baca:
“Saya pengen beli kamera, tapi baru punya uang Rp 1juta. Sebaiknya saya beli kamera poket atau tunggu dulu supaya bias beli prosumer?”
Buat saya, kamera diperlukan untuk mengabadikan momen. Walaupun mungkin tidak puas dengan segala keterbatasan kamera poket tipe point & shoot, tapi momen yang dapat diabadikan jauh lebih berharga. Banyak momen indah yang tak bisa diulang akan terlewatkan tanpa kamera. Jadi, saya akan menyarankan:
“Beli saja kamera sesuai budget yang ada, tapi pilih kamera dengan kualitas & fitur terbaik pada harga tersebut”
Itu sebabnya saya buat catatan tentang kamera-kamera kompak berharga ekonomis.
Jika kamera sudah berada di tangan, tips berikut ini akan  berguna bagi Anda agar tak ketinggalan momen. Beberapa tips berlaku umum, beberapa lainnya diberi catatan khusus untuk pemakai DSLR atau khusus pemakai poket.

1.      Tas atau kantong kamera
Ada berbagai macam disain dan ukuran tas kamera, dari yang model slempang, ransel, dengan banyak variasi ukuran dan ruangan. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa cepat Anda dapat menjangkau kamera pada saat diperlukan. Tas model ransel yang berukuran besar memungkinkan Anda membawa banyak perlengkapan, tetapi jika disandang di punggung tentu memerlukan waktu lebih untuk mengambil kamera Anda. Jika sudah berada di lokasi pemotretan, mungkin lebih baik Anda menyandangnya di depan agar kamera lebih mudah dijangkau tanpa perlu menanggalkan tas dari tubuh Anda.

2.      Batere cadangan
Batere merupakan elemen vital dalam kamera digital dan salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah batere yang habis di tengah sesi pemotretan. Daya tahan batere selain dipengaruhi oleh kapasitas batere, juga dipengaruhi oleh:
(1)     pemakaian flash,
(2)    penggunaan autofocus,
(3)    penggunaan live-view atau review di LCD.
Jadi, meskipun batere Anda sudah discharge full power, tetaplah membawa batere cadangan.

3.       Memory card
Memory card juga merupakan elemen vital dalam fotografi digital. Kapasitas memory card yang jauh lebih besar daripada rol film memungkinkan fotografer memotret dengan leluasa, namun ternyata sering menjadi batu sandungan, terutama untuk fotografer pemula.
Satu sesi pemotretan bias menghasilkan 200-500 frame foto. Kapasitas penyimpanan memory card ditentukan oleh:
(1)    Ukuran resolusi frame (10 MP 6 MP, atau 3 MP, dst)
(2)    Kualitas foto (Fine, Normal, Economy)
(3)    Format file (RAW atau JPEG)
Jadi agar setiap momen terekam dengan baik, pastikan ruang kosong di memory card Anda cukup untuk 500 frame, atau bawa memory card cadangan.
4.       Rencanakan kondisi pemotretan
Perencanaan kondisi pemotretan yang akan dihadapi akan member Anda persiapan lebih baik untuk menyesuaikan berbagai hal. Yang perlu diperhatikan, di antaranya:
(1)    Lokasi: indoor atau outdoor
(2)    Waktu: pagi, siang sore, atau malam. Ini akan berpengaruh pada:
(3)    Lighting: ambience atau artificial
Jika pemotretan dilakukan secara outdoor dengan mengandalkan ambient light, maka Anda juga harus mempersiapkan penyesuaian dengan kondisi cuaca saat sesi berlangsung.

5.       Kamera setting
Setelah memiliki gambaran kondisi pemotretan yang akan berlangsung, maka setting kamera harus disesuaikan. Anda dapat menggunakan scene program yang sudah tersedia atau menggunakan priority setting yang ada agar Anda dapat mengantisipasi setiap keadaan secepat mungkin. Saya sendiri biasanya menghindari penggunaan mode M karena  “menyimpan” setting yang paling sering dipakai pada mode S (Tv) dan A.(Av)
Penggunaan mode M akan mengubah setting yang disimpan di posisi A (Av) dan S (Tv) sehingga memerlukan usaha lebih pada pemotretan berikutnya. Mode M ini biasanya hanya saya gunakan pada kondisi-kondisi khusus yang tidak memungkinkan penggunaan mode lainnya.
Setting lain yang harus dipastikan dan nilai yang biasanya saya gunakan adalah:
ISO – gunakan ISO terendah sesuai kondisi pemotretan
White balance – Auto atau Daylight atau 5500K
Metering – Centr weighted
Shutter release – Continuous
Autofokus – Single

6.       Energy saver
Banyak kamera dilengkapi dengan energy saver yang akan mematikan kamera secara otomatis jika tidak digunakan dalam waktu tertentu. Dalam satu sesi pemotretan, fitur ini kadang menjadi penyebab fotografer tidak sempat menangkap momen karena kameranya terlambat hidup saat start-up. Ini terutama terjadi pada kamera kompak & prosumer.
Jadi, matikan saja fitur energy saver selama sesi pemotretan.

7.       Fokus dan zoom
Pemilihan mode focusing dan zooming akan mempengaruhi kecepatan respon kamera, terutama pada kamera poket yang melakukan zooming dengan motor elektrik. Kecepatan focus juga ditentukan oleh kontras warna antara subyek dengan latar belakang lingkungan di sekitarnya.

8.       Review
Penggunaan live view dan melakukan review pada LCD sering menghabiskan waktu yang menyebabkan terlewatnya momen. LCD viewer hanya cocok untuk melakukan review singkat pencahayaan dan komposisi. Fokuslah pada menangkap momen.

Catatan khusus untuk pengguna DSLR:
1.       Lensa
Penggantian lensa merupakan aktivitas yang cukup memakan waktu. Karena itu pakai lensa yang paling tepat supaya tak banyak momen terlewat akibat penggantian lensa. Lensa juga harus diperiksa dan kalau perlu dibersihkan sebelum dipasang agar diperoleh hasil yang memuaskan.
2.       Penutup lensa
Jangan lupa melepaskan tutup lensa sebelum mulai memotret. Pastikan di mana Anda menyimpan tutup lensanya agar tidak hilang. Anda juga dapat menggunakan penutup bertali agar lensa tidak lepas dari kameranya.
3.       Aksesoris
Aksesoris lain seperti filter dan flash akan sangat berpengaruh pada respon kamera. Penggunaan filter dapat mengkoreksi metering 1-2 f-stop. Penggunaan flash external akan mempercepat respon karena nergy-nya diperoleh dari batere yang terpisah.

Catatan khusus untuk pengguna poket:
1.       Start up time
Startup time adalah waktu yang diperlukan antara kamera dinyalakan dan kamera siap memotret. Startup time pada kamera poket lebih lama daripada DSLR karena kamera melakukan checking  dan  adjustment pada lensa sebelum siap memoitret.  Jika sudah mulai memotret, sebaiknya kamera tetap dalam kondisi menyala dengan mematikan nergy saver. Jika hendak menghemat nergi, Anda bias mematikan LCD (tidak bias dilakukan pada kamera tanpa viewfinder).
2.       Shutter lag
Shutter lag  adalah waktu antara tombol shutter ditekan dan saat kamera merekam gambar. Kamera-kamera baru sudah mampu mengatasi shutter lag ini, tetapi masih tetap harus diperhatikan.
3.       Flash
Flash pada kamera  poket sering menjadi sumber kehilangan momen karena kamera tidak dapat memotret saat flash sedang diisi. Sebisa mungkin, matikan flash agar diperoleh respon yang cepat.