Jumat, 30 September 2011

Sunset - Capturing the Golden Moment

Suasana menjelang matahari terbenam dengan nuansa jingga dan langit yang berwarna-warni selalu menarik untuk diabadikan. Akan tetapi cukup banyak rekan yang mengeluhkan kesulitan dalam menangkap momen tersebut.

Untuk membantu rekan-rekan, saya menulis 4 tips yang dapat dipraktekkan untuk mengabadikan sunset. Setting yang benar-benar pas untuk setiap kesempatan mungkin berbeda, jadi Anda harus temukan sendiri, tetapi saya harap tahap-tahap untuk menentukannya bisa membantu Anda.

SUNSET 01 - Menemukan setting yang tepat


Pada foto yang pertama ini, sasarannya adalah menangkap nuansa jingga yang muncul menjelang matahari terbenam. Yang perlu dilakukan adalah menentukan setting speed & aperture yang tepat. Untuk memperoleh perkiraan setting, saya pakai:


  • mode A, f/16, ISO 100, metering SPOT.
  • metering pada titik terang di bawah matahari
  • review gambar yang diperoleh
  • pindahkan mode dari A ke M dan lakukan penyesuaian speed

Pada setting seperti ini, biasanya diperoleh matahari bulat jingga dengan obyek di latar depan berupa siluet.

SUNSET 02 - Siluet di Latar Depan
Setelah memperoleh setting yang terbaik untuk mengabdikan matahari yang sedang terbenam, pertahankan setting tersebut dengan menggunakan mode M. Setelah itu, carilah obyek yang menarik di latar depan sehingga foto tampil lebih menarik. Misalkan pada foto bangau berikut ini


SUNSET 03 - Menggunakan Fill In Flash

Jika ingin menampilkan obyek di latar depan, harus ada cahaya tambahan untuk mengimbangi cahaya yang kuat di latar belakang. Penggunaan flash menjadi solusi alternatif agar obyek di latar depan muncul.
Yang perlu diperhatikan adalah maximum sync speed (shutter speed tertinggi yang bisa dicapai saat flash menyala). Ini akan menjadi salah satu pembatasan pada setting dan harus dikompensasi dengan pengaturan ISO atau aperture.
Contoh hasilnya saya bandingkan 2 foto berikut:

Pada foto atas, flash tidak digunakan sehingga teman saya hanya muncul sebagai siluet. Dengan menggunakan flash pada mode M dan diset slow sync, diperoleh hasil sebagaimana foto sebelah bawah.

SUNSET 04 - HDR
Jika ingin menampilkan banyak obyek di latar depan pada daerah yang luas, HDR menjadi alternatif untuk memuunculkan lebih banyak warna. Untuk melakukan ini, shutter harus dipasang ke mode BRACKETING dengan step +-0.5 atau +-0.7
Sebaiknya gunakan tripod dan timer agar pada saat pemotretan kamera tidak bergerak. Selanjutnya 3 foto yang diperoleh digabungkan dengan software HDR atau bisa juga dengan Photoshop
Hasilnya kira-kira seperti ini:


walau bagaimana pun, diperlukan banyak praktek & eksperimen untuk memperoleh hasil terbaik. Silakan mencoba.

Selasa, 20 September 2011

Fill-In Flash - Tetap Penting di Siang Hari

Beberapa rekan berpikir bahwa "flash tidak diperlukan untuk foto outdoor siang hari"
Contoh yang berikut ini akan menunjukkan manfaat penggunaan flash pada foto outdoor di siang hari.

Kiri: tanpa flash --- kanan: fill in flash (on)


Latar belakang yang sebagian adalah langit yang masih terang menyebabkan metering dengan mode "Multi Segment" atau "Centre Weighted" dan menghasilkan foto subyek dengan wajah yang gelap seperti dalam foto sebelah kiri. Sebaliknya metering dengan mode "Spot" akan menghasilkan wajah yang cukup terang dengan latar belakang yang pudar akibat over exposure.
Foto sebelah kanan dimbil dengan memaksa Flash menyala dengan teknik fill-in (flash diset pada kondisi On). Flash internal kamera sudah cukup untuk melakukan ini pada jarak subyek maksimal 2,5 meter. Jika jarak subyek lebih dari itu, sebaiknya gunakan flash external.

Kamis, 21 Juli 2011

Teknik - Metering

kamera-kamera digital saat ini memiliki beberapa macam mode metering. Namun ternyata banyak yang belum memahami, apa efek yang dihasilkan dari perbedaan mode metering tersebut. Atau bahkan lebih parah lagi, belum mengetahui apa fungsi dan makna dari metering.

Metering adalah  fungsi yang dimiliki kamera digital untuk menentukan exposure setting berdasarkan intensitas cahaya yang sampai ke sensor. Pada dasarnya ada 3 besaran yang menentukan dalam exposure settung, yaitu:
  1. Shutter speed
  2. Aperture
  3. ISO
Setting mana yang disetel oleh kamera ditentukan oleh exposure mode yang dipilih oleh fotografer. Misalnya:
  1. Mode AUTO: semua setting ditentukan oleh kamera
  2. Mode Program (P): ISO ditentukan oleh fotografer, kamera menghitung shutter speed & aperture
  3. Mode Speed Priority (S atau Tv): ISO & shutter speed ditentukan fotografer, kamera menentukan lebar aperture
  4. Mode Aperture Priority (A atau Av): ISO & bukaan aperture ditentukan oleh fotografer, kamera menentukan shutter speed
  5. Mode Manual (M): semua setting telah dilakukan oleh fotografer, metering kamera hanya memberikan notifikasi saja namuntidak akan mengubah setting apapun.
 Pemilihan mode metering akan memperngaruhi hasil setting yang dilakukan oleh kamera. Pada kondisi pemotretan dengan cahaya yang merata dan obyek yang full colour, pemilihan mode metering tidak memberikan perbedaan hasil yang signifikan. Akan tetapi pada obyek yang kontras, permilihan mode yang tepat akan memberi hasil yang berbeda. Paling tidak ada 3 mode metering yang umum ditemui, yaitu:
  1. Multi segment: pada mode ini, kamera melakukan exposure setting berdasarkan intensitas cahaya rata-ratadari seluruh bagian frame (95-100% area frame). Mode multi segment ini mirip dengan mode matrix dan average.
  2. Centre weighted: pada mode ini, kamera melakukan exposure setting berdasarkan intensitas cahaya yang datang dari sebagian besar frame dengan memberi bobot lebih besar pada intensitas cahaya di bagian tengah (50-75% area frame). Mode ini disebut juga partial metering.
  3. Spot pada mode ini, kamera hanya memperhitungkan intensitas cahaya yang datang dari bagian tengah frame (5-15% area frame)

Untuk jelasnya, berikut ini adalah gambaran area yang diperhitungkan dalam metering.
  1. Kotak merah adalah batas area yang diperhatikan dalam mode multi segment ' matrix / average
  2. Kotak biru adalah batas area yang diperhitungkan dalam mode Centre Weighted
  3. Kotak jingga (oranye) di tengah adalah batas area yang diperhitungkan dalam mode Spot

Agar lebih jelas, saya aplikasikan area di atas pada obyek dan latar belakang yang kontras. Pada pemotretan ini saya menggunakan mode Aperture Priority (A) dengan ISO 800 dan f/5.6 sehingga perbedaan hasil metering akan tampak pada shutter speed.

1. Obyek GELAP dengan latar belakang TERANG

Pada obyek di atas, mode Spot akan mengukur area dengan warna hitam. Karena itu kamera akan menaikkan exposure sehingga diperoleh shutter speed 1/2 s. Akibatnya, latar belakang yang terang menjadi over exposure dengan hasil seperti ini:
Jika mode metering diubah ke Centre weighted, sebagian besar area dalam kotak biru adalah warna gelap, akan tetapi kamera memperhitungkan juga warna terang di latar belakang, sehingga shutter speed naik menjadi 1/5 s

Pada saat menggunakan mode Multi Segment, seluruh luasan latar belakang ikut diperhitungkan, sehingga diperoleh shutter speed yang lebih cepat lagi, yaitu 1/8 s dengan hasil sebagai berikut:
Perubahan setting shutter speed tersebut menunjukkan perbedaan detil yang jelas di latar belakang dan pada tutup lensa. Semakin luas area yang diperhitungkan, semakin cepat shutter speed yang dipilih.
Efek yang berlawanan muncul pada obyek terang pada latar belakang gelap.


2. Obyek TERANG dengan latar belakang GELAP
Pemotretan dengan mode Spot menghasilkan pengukuran pada bidang yang dominan putih, sehingga diperoleh shutter speed  1/6 s
Dengan mode Centre Weighted, sebagian besar area berwarna gelap, akan tetapi obyek di tengah yang berwarna terang mendapat porsi perhitungan lebih besar, sehingga shutter speed hanya turun sedikit menjadi 1/4 s.

Pada saat menggunakan mode Multi Segment, kamera menangkap banyak area gelap, akibatnya shutter speed jadi lambat, diperoleh hasil 1/2 s yang menyebabkan sedikit over esposed seperti berikut:
Mode mana yang Anda pilih bergantung pada seberapa luas & seberapa banyak detil yang hendak ditampilkan.serta seberapa jauh kontras antara obyek dengan latar belakangnya.

Sabtu, 21 Mei 2011

Perspektif dan Komposisi

Catatan ini dibuat setelah memperhatikan 2 buah foto yang diambil pada kesempatan yang sama dengan obyek yang juga sama. Foto tersebut adalah:
1. Foto oleh Irfan A.Tachrir:

2. Foto jepretanku sendiri:
Saat saya melihat foto yang diupload kang Irfan di halaman facebook-nya, saya enasaran karena foto itu tampak lebih menarik daripada foto yang saya punya. Awalnya, perbedaan yang paling jelas adalah pada tonal warnanya. Karena penasaran, saya mencoba mengolah sedikit foto yang saya punya agar lebih mendekati tonal warna pada foto Kang Irfan. hasilnya seperti ini:
Dengan tonal yang berdekatan, tampak jelas adanya perbedaan lain yaitu perbedaan komposisi yang dihasilkan dari perbedaan perspektif. Kag Irfan mengambil foto tersebut dari posisi berdiri (lebih tinggi dari model), sehingga lengkungan rel kereta tampak utuh tak terputus dan membentuk frame di sekitar model. Sedangkan saya mengambil foto tersebut dari posisi jongkok, sejajr dengan model yang mengakibatkan terputusnya lengkungan rel kereta karena tertutup oleh badan model.
Kesimpulan: foto Kang Irfan tampil lebih menarik bukan saja karena pilihan tonal warnanya, tetapi karena berhasil menempatkan elemen-elemen dalam foto untuk tampil saling mendukung. Jadi dalam setiap kesempatan pemotretan, eksplorasi berbagai macam angle agar diperoleh hasil yang maksimal.



Jumat, 29 April 2011

Recovery Tools - Alat untuk Menyelamatkan File Berharga Anda.

Tiga hari lalu ada kejadian yang cukup memusingkan. Awalnya, partisi di portable harddisk bermasalah, Bagian yang berisi software aplikasi kadang terbaca kadang tidak. Setelah partisi diperbaiki, bagian yang berisi file foto & video gantian error. Walaupun terdeteksi, tetapi semua file hilang tak berbekas, harddisk kosong seperti habis diformat. Bagian yang berisi file foto & video itu kapasitasnya 52 GB dan sudah terisi sekitar 43 GB, tetapi saat dilihat drive property-nya, tampak bahwa baru 69 MB yang terisi file dan itupun tidak kelihatan filenya.

Sudah dicoba dilihat kembali dengan File Explorer, Show Hidden File tidak berhasil. Search Hidden File gagal. Mengubah atribut file lewat command prompt pun tidak memberikan efek. Norton Commander juga sama saja. Konsultasi dengan teman-teman, disarankan untuk menggunakan aplikasi Recovery Tools. Sebetulnya ada banyak aplikasi untuk recovery file ini, tetapi yang sempat aku coba adalah:
  • Easy Recovery
  • Getback Files 
Sayangnya kedua aplikasi  tersebut cuma berhasil "menemukan" sekitar 29.000 files tetapi tidak berhasil menyajikannya kembali. Entah ada kesalahan di mana. Alhamdulillah, dari hasil browsing sambil menunggu proses scanning berlangsung (perlu 4-6 jam untuk scanning 52 GB) aku dapat aplikasi Testdisk Photorec yang bisa didownload gratis dari http://www.cgsecurity.org

Aplikasi dengan tampilan sederhana ini akan memunculkan command prompt dengan cursor yang berkedip-kedip dan angka yang menunjukkan sejauh mana proses berjalan. Hasil yang diperoleh, aku bisa dapatkan lagi lebih dari 23.000 file foto, video, dan dokumen text yang sebelumnya tak terlihat. Jumlahnya memang hanya sekitar 80%dari file yang "ditemukan" oleh 2 aplikasi sebe;lumnya, namun file yang diperoleh bisa tersimpan dengan baik.

File-file yang bisa di-recover tersebut tidak berada dalam folder sebagaimana file orisinalnya. Aplikasi Photorec akan menempatkan setiap 500 files berbagai tipe dalam 1 recovery folder. Artinya, dengan 23.xxx files, saya punya 44 folder yang harus dicek satu persatu untuk mengetahui apa isi di dalamnya dan mengklasifikasikannya kembali

Jika kebetulan Anda mengalami masalah yang sama sebaiknya:
1. Jangan mengubah isi atau memformat ulang harddisk sebelum recovery dilakukan
 2. Simpan file yang bisa di-recover di tempat yang berbeda dengan asalnya supaya bisa dilakukan proses dengan aplikasi lain jika aplikasi pertama gagal me-recover.
3. Pastikan proses recovery berjalan sampai selesai / tidak terputus tiba-tiba di tengah proses
Artinya, jika Anda menggunakan laptop, colokkan power ke listrik. Atau jika Anda menggunakan PC, sebaiknya pakai UPS.

Selasa, 12 April 2011

Unsur Gerak Dalam Foto

Hari Minggu, 10 April 2011, saya menghabiskan waktu di lokasi wisata Bukit Naang, Bangkinang, kabupaten kampar. Tempat ini merupakan bumi perkemahan dan tempat outbound dengan flying fox tertinggi di Sumatera. Selain permainan flying fox dari ketinggian 30 meter, ada pula permainan tree top bridge yang mengajak pengunjung merasakan kehidupan Tarzan dengan berjalan dari pohon ke pohon pada ketinggian 5 - 8 meter.

Tujuan berkunjung ke sini adalah untuk melakukan test pada lensa Minolta 75-300 mm.Secara umum, kesimpulannya lensa ini cukup tajam, respon bagus, tapi rentan terhadap fringe.

Hal lain yang cukup menarik untuk sharing adalah bagaimana unsur gerak bisa membuat foto menjadi lebih menarik & "berbicara". Ini diawali ketika saya memotret seorang gadis yang melakukan ayunan ala Tarzan. Ini fotonya:
Setting yang dipakai saat itu adalah:
  • Mode A (aperture priority)
  • ISO 200
  • f/5.6
  • Shutter speed 1/320 s
  • Autofocus mode: AF-C (continuous)
Walaupun hasilnya cukup tajam, tapi foto itu tidak memuaskan saya karena obyek terlihat hanya sekedar menggantung dan tidak bergerak. Maka selanjutnya saya coba untuk menggerakkan kamera sesuai dengan gerakan obyek. Teknik ini biasanya dikenal dengan istilah panning. Hasilnya seperti ini:
Sudah lebih menarik, tapi masih kurang dramatis. Kelihatannya 1/320 s masih terlalu cepat, jadi saya pindahkan modenya dari aperture Priority ke Shutter speed priority (mode S). Kecepatan diturunkan, dipatok di 1/60 s. Dengan metering Centre Weighted, bukaan aperture dapat f/9 atau f/10. Kamera saya gerakaan mengikuti arah gerak obyek. Hasilnya seperti ini:

 Lebih menarik kan?
Setting yang digunakan:

  • Mode S (shutterspeed priority)
  • ISO 200
  • Shutter speed 1/60 s
  • f/9.0
  • Autofocus mode: AF-C (continuous)
Jadi, untuk memotret obyek yang bergerak belum tentu harus menggunakan speed tinggi. Speed rendah bisa menghasilkan efek yang lebih menarik ... :-D

Rabu, 02 Maret 2011

"Lensa apa ya berikutnya?"

Pertanyaan di atas disampaikan oleh beberapa teman yang sudah memiliki kamera + lensa kit dan menginginkan lensa tambahan yang lebih memenuhi seleranya. Mereka menanyakan, lensa apa yang sebaiknya dibeli dan biasanya saya balik bertanya:
"Apa yang mau difoto?" atau
"Apa kekurangan yang paling terasa dari lensa kit?" atau
"Lensa seperti apa yang diinginkan?"
dan sejenisnya.

Memilih lensa menurut saya adalah preferensi pribadi, salah satu bentuk manifestasi kepribadian dan kesenangan dalam fotografi. Lensa yang cocok untuk satu orang belum tentu sesuai untuk yang lain. Misalnya ada teman yang menyarankan memakai Tamron 17-50 mm sebagai pengganti lensa kit karena lebih tajam. Tapi saya gak terlalu peduli dengan ketajaman ekstra, yang saya perlukan adalah lensa dengan tele yang cukup jauh, maka saya kemudian membeli Tamron 18-200 mm yang "katanya" tidak tajam, lelet, berat, dsb.

Namun demikian, kita bisa saja mengelompokkan lensa-lensa itu dalam beberapa kelas:
  1. Standard zoom lens merupakan lensa vario dengan jarak fokus yang dapat diubah-ubah dan bukaan maksimal aperture berubah sesuai dengan jarak fokusnya. Lensa ini cocok untuk berbagai keperluan dokumentasi pribadi. Lensa kit 18-55 mm, 18-70 mm, 28-80 mm dan sejenisnya termasuk jenis lensa ini. Karena kualitasnya seadanya, banyak yang menghendaki alternatif yang lebih baik. Misalnya:  untuk zoom range yang lebih luas bisa dipilih 18-105 mm, 28-135 mm, 28-200 mm, dst. Untuk ketajaman lebih biasanya digunakan Tamron 17-50 mm atau Carl Zeiss 16-80 mm
  2. Prime lens memiliki jarak fokus yang tetap sehingga kualitas dan ketajamannya sangat baik.Akan tetapi  fotografer harus banyak berjalan kaki untuk menyesuaikan komposisi dan proporsi foto. Lensa jenis ini di antaranya 50 mm f/1.8. Alternatifnya, misalnya 50 mm f/1.4, 50 mm f/1.2, 85 mm f/3.5, 135 mm f/4, dst.
  3. Wide lens adalah lensa dengan jarak fokus pendek sehingga diperoleh ruang pandang (FOV - Field Of View) yang lebih luas. Lensa yang termasuk jenis ini, di antaranya 10-22 mm, 11-18, dll. Pegembangan lain adalah ke lensa fishye, misalnya Samyang 8 mm.
  4. Fast lens adalah lensa dengan bukaan lebar. Lensa-lensa ini memiliki angka aperture f/2.8, f/2, f/1.8 atau lebih kecil. Keuntungannya, dengan aperture lebar, maka dapat diperoleh shutter speed yang lebih tinggi. Itulah sebabnya lensa ini memperoleh sebutan fast lens. Efek samping dari bukaan yang lebar adalah lens blur atau bokeh karena DoF (Depth of Field) yang sempit.
  5. Macro lens adalah lensa yang memiliki konstruksi khusus sehingga memungkinkan untuk memotret obyek dari jarak dekat (50 cm atau kurang). Lensa macro yang sesungguhnya memiliki kemampuan pembesaran 1:1, adapun spesifikasi yang banyak dipakai adalah 100 mm f/2.8 Macro, 50 mm f/2.8 macro, dst. Namun demikian, produsen lensa 3rd party seperti Sigma, Tamron, dan Tokina mengembangkan lensa vario dengan kemampuan makro 1:4, !:5 atau !:7, seperti misalnya Tamron 18-200 Di II LD Aspherical Macro yang memiliki jarak obyek minimum 45 cm dengan perbesaran 1:4
  6. Super tele lens adalah lensa-lensa dengan jarak fokus di atas 180 mm, misalnya 100-400 mm, 170-500 mm, dst. Lensa-lensa jenis ini cocok untuk pemotretan olahraga, alam liar, pengamatan burung, dan obyek-obyek lain yang tidak memungkinkan fotografer mendekati obyek secara langsung.

Selain dari jarak fokus dan aperture, perlu diperhatikan juga fitur tambahan pada lensa yang akan memberikan kemudahan (dengan harga yang sesuai), di antaranya:
  1. Motor lensa kualitas tinggi yang lebih responsif, sehingga menjamin ketajaman obyek yang bergerak. Lensa jenis ini biasanya memiliki kode khusus yang berbeda dari setiap pabrikan, misalnya SSM (Super Sonic Motor), HSM (High Speed Motor), DX, SAM, dsb 
  2. Image stabilizer merupakan fitur yang berguna untuk meredam guncangan pada pemotretan dengan speed rendah. Fitur ini juga memiliki kode yang berbeda-beda, misalnya IS (Image Stabilizer) pada canon, VR (Vibration Reduction) pada Nikon, SSS (Super Steady Shoot) pada Sony, dsb.
  3. Coating (bahan kimia pelapis optik lensa) merupakan faktor penting karena respon sensor digital terhadap cahaya berbeda dengan reaksi pada film. Permasalahan pada coating dapat menimbulkan flare, chromatic aberration (CA), ghosting, dsb. Lensa-lensa digital biasanya memiliki beberapa lapisan sehingga diberi tanda MC (multi coating) yang secara umum memiliki performa lebih baik dibandingkan lensa lama yang masih single coating.
  4. Aspherical merupakan konstruksi lensa yang mengandung elemen lensa aspheric dan berfungsi untuk mengurangi pembiasan spherical aberration yang disebabkan oleh bentuk lensa yang cembung.
  5. Low Dispersion adalah elemen optis yang minim dispersi (penyebaran) cahaya, sehingga intensitas cahaya yang sampai pada sensor menjadi lebih tinggi dan detil yang diperoleh lebih banyak. 
 Beberapa tulisan yang lalu tentang lensa mungkin bisa memberikan tambahan informasi:
Memilih Lensa untuk Anda
Memilih Lensa Sesuai Keperluan
Lensa Manual
Zoom Lens
Fast Lens
Prime Lens

Semoga bisa memberi pedoman untuk memilih lensa berikutnya :-)