Tampilkan postingan dengan label exposure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label exposure. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juli 2011

Teknik - Metering

kamera-kamera digital saat ini memiliki beberapa macam mode metering. Namun ternyata banyak yang belum memahami, apa efek yang dihasilkan dari perbedaan mode metering tersebut. Atau bahkan lebih parah lagi, belum mengetahui apa fungsi dan makna dari metering.

Metering adalah  fungsi yang dimiliki kamera digital untuk menentukan exposure setting berdasarkan intensitas cahaya yang sampai ke sensor. Pada dasarnya ada 3 besaran yang menentukan dalam exposure settung, yaitu:
  1. Shutter speed
  2. Aperture
  3. ISO
Setting mana yang disetel oleh kamera ditentukan oleh exposure mode yang dipilih oleh fotografer. Misalnya:
  1. Mode AUTO: semua setting ditentukan oleh kamera
  2. Mode Program (P): ISO ditentukan oleh fotografer, kamera menghitung shutter speed & aperture
  3. Mode Speed Priority (S atau Tv): ISO & shutter speed ditentukan fotografer, kamera menentukan lebar aperture
  4. Mode Aperture Priority (A atau Av): ISO & bukaan aperture ditentukan oleh fotografer, kamera menentukan shutter speed
  5. Mode Manual (M): semua setting telah dilakukan oleh fotografer, metering kamera hanya memberikan notifikasi saja namuntidak akan mengubah setting apapun.
 Pemilihan mode metering akan memperngaruhi hasil setting yang dilakukan oleh kamera. Pada kondisi pemotretan dengan cahaya yang merata dan obyek yang full colour, pemilihan mode metering tidak memberikan perbedaan hasil yang signifikan. Akan tetapi pada obyek yang kontras, permilihan mode yang tepat akan memberi hasil yang berbeda. Paling tidak ada 3 mode metering yang umum ditemui, yaitu:
  1. Multi segment: pada mode ini, kamera melakukan exposure setting berdasarkan intensitas cahaya rata-ratadari seluruh bagian frame (95-100% area frame). Mode multi segment ini mirip dengan mode matrix dan average.
  2. Centre weighted: pada mode ini, kamera melakukan exposure setting berdasarkan intensitas cahaya yang datang dari sebagian besar frame dengan memberi bobot lebih besar pada intensitas cahaya di bagian tengah (50-75% area frame). Mode ini disebut juga partial metering.
  3. Spot pada mode ini, kamera hanya memperhitungkan intensitas cahaya yang datang dari bagian tengah frame (5-15% area frame)

Untuk jelasnya, berikut ini adalah gambaran area yang diperhitungkan dalam metering.
  1. Kotak merah adalah batas area yang diperhatikan dalam mode multi segment ' matrix / average
  2. Kotak biru adalah batas area yang diperhitungkan dalam mode Centre Weighted
  3. Kotak jingga (oranye) di tengah adalah batas area yang diperhitungkan dalam mode Spot

Agar lebih jelas, saya aplikasikan area di atas pada obyek dan latar belakang yang kontras. Pada pemotretan ini saya menggunakan mode Aperture Priority (A) dengan ISO 800 dan f/5.6 sehingga perbedaan hasil metering akan tampak pada shutter speed.

1. Obyek GELAP dengan latar belakang TERANG

Pada obyek di atas, mode Spot akan mengukur area dengan warna hitam. Karena itu kamera akan menaikkan exposure sehingga diperoleh shutter speed 1/2 s. Akibatnya, latar belakang yang terang menjadi over exposure dengan hasil seperti ini:
Jika mode metering diubah ke Centre weighted, sebagian besar area dalam kotak biru adalah warna gelap, akan tetapi kamera memperhitungkan juga warna terang di latar belakang, sehingga shutter speed naik menjadi 1/5 s

Pada saat menggunakan mode Multi Segment, seluruh luasan latar belakang ikut diperhitungkan, sehingga diperoleh shutter speed yang lebih cepat lagi, yaitu 1/8 s dengan hasil sebagai berikut:
Perubahan setting shutter speed tersebut menunjukkan perbedaan detil yang jelas di latar belakang dan pada tutup lensa. Semakin luas area yang diperhitungkan, semakin cepat shutter speed yang dipilih.
Efek yang berlawanan muncul pada obyek terang pada latar belakang gelap.


2. Obyek TERANG dengan latar belakang GELAP
Pemotretan dengan mode Spot menghasilkan pengukuran pada bidang yang dominan putih, sehingga diperoleh shutter speed  1/6 s
Dengan mode Centre Weighted, sebagian besar area berwarna gelap, akan tetapi obyek di tengah yang berwarna terang mendapat porsi perhitungan lebih besar, sehingga shutter speed hanya turun sedikit menjadi 1/4 s.

Pada saat menggunakan mode Multi Segment, kamera menangkap banyak area gelap, akibatnya shutter speed jadi lambat, diperoleh hasil 1/2 s yang menyebabkan sedikit over esposed seperti berikut:
Mode mana yang Anda pilih bergantung pada seberapa luas & seberapa banyak detil yang hendak ditampilkan.serta seberapa jauh kontras antara obyek dengan latar belakangnya.

Selasa, 27 April 2010

Olah Digital - Setting Exposure, Shadow & Highlight

Seringkali foto yang telah kita ambil dan tampak bagus di viewer kamera, ternyata tampil kurang memuaskan di layar komputer maupun saat dicetak. Mungkin foto itu terlalu gelap (under exposed) ataupun terlalu terang (over exposed) pada sebagian atau keseluruhan bagiannya.

Contohnya, ini foto istri saya yang difoto oleh anak-anak pada liburan lalu:

Untuk setiap gambar yang ditampilkan dalam foto ini, Anda dapat melihatnya dalam ukuran yang lebih besar dengan meng-klik gambar tersebut.  

Karena kekurangannya baru diketahui setelah tiba di rumah, tetunya tak mungkin melakukan pemotretan ulang. Dan dalam banyak kesempatan memang tidak dimungkinkan adanya pemotretan ulang, tetapi untunglah foto-foto sejenis ini masih sangat mungkin diperbaiki dengan olah digital.
Untuk perbaikan foto di atas, saya pakai fasilitas exposure adjustment ditambah perbaikan pada shadow  dan highlight. Langkahnya seperti ini:

1. Buka gambar diPhotoshop, lalu klik Image --- Adjustment --- Exposure
Untuk Exposure ini. ada 3 besaran yang bisa ditata. Setiap foto memiliki nilai defaultnya dan digambarkan dengan sebuah slider. Jika slider bergerak ke kanan, gambar akan menjadi lebih terang, sebaliknya jika slider digerakkan ke kiri, gambar menjadi gelap. {astikan kotak Preview sudah dicentang supaya Anda bisa mengamati perubahan pada foto.

2. Lakukan setting sesuai dengan keperluan Anda. Besaran yang kita atur adalah:
(a) Exposure compensation untuk kecerahan gambar. Default: 0. Saya geser ke +0.6
(b) Offset untuk menentukan warna tengah & kontras. Default 0. Saya geser ke -0.0050
(c) Gamma untuk mengatur kecerahan & tonal warna. Default 1. Saya geser ke 0.80

3. Gambar sudah lebih terang, tetapi bagian wajah istri saya terlalu gelap dibandingkan laut di latar belakang. Jadi saya pikir perimbangan antara shadow dan highlight masih perlu diperbaiki.
Langkah selanjutnya adalah pengaturan keseimbangan shadow dan highlight dengan Image --- Adjustment --  Shadow and Highlight. 

 Di sini kita mengatur bagian shadow dan highlight secara terpisah. Pengaturan tetap menggunakan slider. Jika slider bergerak ke kanan pada shadow, maka daerah gelap akan menjadi lebih terang. Namun jika slider highlight yang kita gerakkan ke kanan, daerah terang justru akan menjadi lebih gelap.

4. Setting untuk shadow saya set dari 0 ke 10, begitu juga untuk highlight saya geser dari 0 ke 10
Perhatikan perubahan keseimbangan pada bagian wajah dan latar belakang.



5. Setelah shadow dan highlight diseimbangkan, tampak masih ada noise yang mengganggu.
Langkah selanjutnya adalah menghilangkan noise dengan Filter --- Noise --- Reduce noise

6. Setting noise akan memiliki efek samping menghilangkan detil gambar. Jadi perhatikan seberapa banyak kekuatan noise reduction yang diperlukan agar detil yang hilangtidak mengganggu keindahan gambar.

Selanjutnya, Anda mungkin ingin menambahkan perbaikan-perbaikan lain. Hasil akhir dari proses editing kali ini kita bandingkan kembali dengan gambar awalnya sebagai berikut:

Semoga bermanfaat.

Minggu, 10 Januari 2010

Teknik - Bright Daylight Exposure

Bright Daylight Exposure atau BDE adalah istilah yang digunakan untuk melakukan setting manual pencahayaan pada pemotretan di luar ruangan pada siang hari dengan matahari bersinar cerah.
Pada masa penggunaan kamera analog yang menggunakan media film dan mengandalkan setting manual, BDE merupakan standar pemotretan yang harus diketahui oleh seorang fotografer. Pada masa itu, untuk memperoleh gambar yang bisa dilihat, film harus diproses lebih dulu di ruang gelap. apabila hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan, tentunya tidak mungkin untuk melakukan pemotretan ulang karena pada saat foto selesai dicetak, momennya telah lama berlalu. Oleh karena itu, fotografer harus mengerti betul setting pencahayaan pada kamera agar hasil yang diperoleh sesuai dengan harapan.
Ada 3 faktor yang dapat mengatur agar media (film ataupun sensor) memperoleh pencahayaan yang cukup saat pemotretan. Ketiga faktor itu adalah:
  1. ISO yaitu ukuran kepekaan media terhadap intensitas cahaya yang masuk. Pada masa penggunaan film, ISO ini ditentukan oleh jenis film yang digunakan, jadi fotografer tidak dapat lagi mengaturnya jika sudah memilih menggunakan film tertentu

  2. Shutter speed yaitu setting yang akan mengatur lamanya waktu terbukanya jendela cahaya

  3. Aperture yaitu setting yang akan mengatur lebar bukaan jendela cahaya

BDE digunakan sebagai patokan untuk memastikan bahwa media memperoleh pencahayaan yang cukup sehingga diperoleh foto yang cerah (bright), tajam (contrast) dan jernih (clear). Karena pada masa itu ISO ditentukan oleh jenis film, maka BDE pun harus didasarkan pada ISO. Patokannya, angka shutter speed harus sesuai dengan ISO. Jadi setting BDE memiliki alternatif sebagai berikut:
  • ISO 100, shutter speed 125, aperture f.16

  • ISO 200, shutter speed 250, aperture f.16

  • ISO 400, shutter speed 500, aperture f.16

Pada kondisi lapangan dan setting ISO yang sama, mungkin dilakukan perubahan setting shutter speed, namun harus diimbangi dengan perubahan setting aperture pada arah yang berlawanan, misalnya setting berikut memiliki tingkat pencahayaan yang sama:
  • ISO 100, shutter speed 125, aperture f.16

  • ISO 100, shutter speed 250, aperture f.11

  • ISO 100, shutter speed 500, aperture f.8

Kalau kondisi lapangan berbeda, misalnya langit mendung, pemotretan dilakukan di tempat yang dinaungi pepohonan, atau di dalam ruangan, maka fotografer harus peka untuk mengantisipasi perubahan keadaan tersebut. Pada masa lalu, untuk membantu para fotografer mengingat, setting yang dianjurkan untuk setiap perubahan keadaan dicantumkan pada kotak film. Bentuknya kira-kira seperti ini:
Klik pada tabel untuk melihat ukuran lebih besar
Pada saat ini, kemajuan teknologi digital telah sangat memudahkan fotografer untuk melakukan tugasnya. Mungkin ada di antara Anda yang suka memotret tetapi tidak pernah memperhatikan setting ISO, shutter speed dan aperture karena semuanya sudah diatur secara otomatis dalam kamera. :-)
Jadi, jika menggunakan kamera digital, apa perlunya mengetahui BDE?
yah, paling tidak kita bisa bersyukur bahwa kemajuan teknologi telah memberikan begitu banyak kemudahan untuk kita. Selain itu, siapa tau kita perlu untuk melakukan setting manual pada kondisi-kondisi yang 'tricky', BDE bisa membantu Anda.
semoga bermanfaat!