Rabu, 06 Oktober 2010

Macro Tools

Foto-foto dari rekan-rekan di facebook - thanks untuk Iwel, Santo Goofy, Adrianto Raharjo, Qee, dkk - bikin saya kangen motret makro. Kebetulan ada beberapa alat yang bisa dijadikan macro converter, di antaranya:
  • lensa jadul 50 mm f/1.9 untuk reversed lens
  • kaca pembesar/ lup untuk converter murah-meriah
  • 0.45x wide// 1.4x macro converter buatan Jepang 

Problemnya, tambahan panjang macro converter di depan lensa menyebabkan timbulnya bayangan jika digunakan flash seperti ini:

saya jadi ingat pengalaman bersama master Adrianus Juniarno waktu motret di Dago Pakar. Kita mesti membuat alat untuk "mengarahkan" dan :menyebarkan" cahaya flash (selanjutnya saya tulis difuser) untuk hasil terbaik.Dengan peralatan berupa gunting, penggaris, pensil dan lem, saya membuat difuser dari bahan seadanya, yaitu:
  • karton bekas kotak hardisk bagian luar
  • kertas foto untuk pelapis dan pemantul (reflektor) di bagian dalam
  • kertas tisu atau kertas kalkir untuk peredam cahaya di depan
  • isolasi sebagai pelapis luar 
  • lakban untuk "menempelkan" difuser ke body kamera 
Panjang difuser disesuaikan dengan panjang total lensa dengan converter terpasang. Difuser cepat jadi ini bentuknya ga terlalu rapih. Maaf ya ...
 Dalam kondisi terpasang, bentuknya jadi begini:


Hasil pemotretan dengan menggunakan macro converter dan diffuser:
Selanjutnya akan kita bandingkan, alat mana yang lebih nyaman digunakan untuk memotret macro.  :-)

Penjaga Kamera

Karena ada yang bertanya, ada baiknya saya tulis apa saja yang diperlukan untuk menjaga fungsi kamera. tetapi karena kamera & lensa saya gak banyak, tentunya alat yang saya punya tidak selengkap rekan-rekan lain yang memiliki banyak koleksi body & lensa.
Musuh utama kamera & lensa adalah debu & kelembaban. Oleh karena itu, peralatan penjaga kamera juga ditujukan untuk menghindarkan debu & kelembaban. Idealnya, kamera & lensa disimpan dalam dry-box atau dry-cabinet, apalagi jika tidak dipakai dalam waktu lama.
Di rumah ada 4 kamera dan lensanya: SLR Canon EOS 1000FN,  poket HP M407 (4MP), prosumer superzoom Konica Minolta Z20 (5MP) dan Fujifilm S6500 fd, serta DSLR Sony A200. Berhubung tidak ada dry box atau dry cabinet, kamera ini ditempatkan saja dalam lemari yang kering dan sejuk. Untuk memastikan kondisinya baik, dalam lemari tersebut ditempatkan juga termometer & higrometer. Alat ini dapat dibeli dengan harga sekitar Rp 100.000 dengan kualitas cukup baik.

Temperatur ruangan yang umumnya 20-45 derajat Celcius tidak membahayakan kamera, tetapi kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan karat yang mengganggu sirkuit elektronik dan jamur yang merusak lensa. Kelembaban yang aman ditandai dengan warna biru (40 - 80%). Supaya lebih aman, sebaiknya diletakkan juga kantong-kantong kecil berisi silica gel.

Silica gel dapat ditempatkan dalam kantong kertas atau plastik. Jika ditempatkan dalam kantong plastik, buatlah beberapa lubang dengan jarum pentul agar silica gel dapat menyerap kelembaban ruangan.silica gel yang telah digunakan akan berubah warna dari biru menjadi pucat. Lakukan penggantian jika warna silica gel sudah memudar. Silica gel ini dapat dibeli perkilo ataupun per kantong. Saya membeli silica gel kiloan dengan harga Rp 50.000 per kilo, bisa dibagi menjadi 100 kantong kecil.
Debu juga merupakan "musuh alami" kamera & lensa. Untuk mencegah debu, ada baiknya dipasang kipas elektronik kecil. atau setidaknya belilah cleaning set yang terdiri dari blower, lap lunak, tisu, cotton bud, dan cairan pembersih

Untuk pengguna DSLR, perlu diperhatikan adanya celah antara lensa dan mount di body kamera. Celah selebar 0,5 mm ini memang sengaja dibuat sebagai toleransi untuk pemasangan & mengantisipasi pemuaian. Kamera-kamera DSLR modern biasanya sudah dilengkapi dust removal. Ada baiknya menggunakan fasilitas ini sebelum kamera disimpan setelah sebuah sesi pemotretan. Untuk kondisi ekstrim, diperlukan weather seal atau body armor. Seorang teman di pekanbaru yang sering mengajak kameranya ke lokasi-lokasi ekstrim memasang seal biasa digunakan pada mesin untuk menutup celah antara body & lensa ini.

Biasanya saya ajak istri & anak-anak untuk motret apa saja, paling tidak 2 hari sekali. Tujuannya supaya kamera-kamera itu selalu mendapat perhatian. jangan sampai ada problem yang terlewat.dan terlanjur menimbulkan kerusakan berat. Batere yang habis dan didiamkan terlalu lama dalam kamera pun dapat menimbulkan karat, lho ...
 Jadi: JEPRET TERUS!!! :-)

Jumat, 01 Oktober 2010

Menonjolkan Point of Interest

Prinsip terpenting dari PoI adalah:
Sebuah foto yang bagus idealnya hanya memiliki 1 (satu) saja obyek yang berperan sebagai PoI (Point of Interest).  Jika foto memiliki beberapa elemen yang berpotensi mejadi PoI, kemas ulang foto tersebut menjadi beberapa frame.

Namun demikian, terkadang obyek yang menarik perhatian kita tidak tersampaikan dengan tepat kepada pemirsa. Berikut beberapa cara untuk menonjolkan POI dan memastikan agar pemirsa menangkap pesan yang ingin kita komunikasikan:
1.      1. Proporsi  
Proporsi obyek yang menjadi PoI sebaiknya cukup dominan dalam frame foto sehingga tidak “tenggelam” di tengah-tengah obyek lainnya.
2.        
2. 2. Komposisi
Komposisi bermankan penempat n elemen-elemen dalam frame sedemikian hingga mengarahkan perhatian pemirsa. Obyek yang menjadi PoI memiliki 2 kemungkinan penempatan:
a.       Di tengah frame – obyek yang berada di tengah frame selalu menjadi perhatian, akan tetapi penempatan ini akan menimbulkan kesan statis.
b.      Pada titik perpotongan 1/3 bagian berdasarkan prinsip
3.3.  
3.  Framing
Framing adalah penataan elemen-elemen dalam foto sedemikian hingga menuntun perhatian pemirsa pada obyek yang menjadi PoI. “Frame” ini dapat berupa cabang pepohonan, bingkai jendela, konstruksi jembatan, dsb
.
4.       4. Kontras warna
Kontras warna antara obyek yang menjadi PoI dengan elemen lain di dalam foto sudah pasti akan menarik perhatian pemirsa. Permainan kontras juga dapat memberikan “nada” atau “nuansa” dalam sebuah foto.
Pada foto-foto human interest, kontras antara PoI dengan elemen lain dapat dilakukan dengan memperhatikan background maupun dengan member pembatas. Misalnya memakai kerudung berwarna cerah pada background gelap untuk menghindari kesamaan warna dengan rambut.

5.      5. Gradasi
Teknik gradasi dapat dilakukan dengan menambahkan layer baru dengan gradasi warna di depan foto asli. Atur sedemikian rupa transparansi (opaque) layer baru ini agar tidak terlalu mencolok.
6. 
       6. DoF (Depth of Field)
Pengaturan DoF biasanya dicapai dengan mengubah aperture. Ini akan membatasi ruang tajam di dalam foto. Obyek utama yang tampil tajam di tengah-tengah elemen lain yang blur tentu akan menarik perhatian pemirsa.
7. 
       7. Cropping
Cropping berarti membuang bagian yang tidak diperlukan sehingga perhatian hanya tertuju pada PoI saja.

Contoh penonjolan PoI dengan melakukan cropping: 


Tentu beberapa teknik dapat digabungkan bersama-sama untuk memperoleh hasil maksimalsebagaimana pada contoh berikut ini:

Pada akhirnya, biarkan kreativitas ikut bermain untuk memperoleh hasil terbaik.

Minggu, 26 September 2010

Repotnya Motret Kucing

Hari minggu lalu, saya menyempatkan diri ke rumah Pakcik di Kulim, karena dapat kabar kucing Persia-nya beranak 6 ekor. Dan ternyata memang menarik, karena 6 ekor kucing umur 3 bulan itu warna bulunya beda-beda: 1 ekor warna putih, 2 ekor belang putih-kelabu, 2 ekor belang 3 (putih-hitam-coklat), dan 1 ekor belang putih-hitam.
Waktu sampai di sana sekitar jam 9, kucing2 ini baru selesai mandi jadi bulu khas Persia-nya yg tebal berubah jd tipis karena basah. Ga bisa difoto deh, ga keliatan karakternya. Ditunggu sekitar 30 menit, bulunya sdh kering lagi, tapi muncul masalah baru: kucing-kucing ini sudah lompat & lari ke sana kemari ... hehehe .....
Tapi akhirnya dapat juga foto-foto yang cukup menarik, salah satunya ini:

Foto lainnya dapat dilihat di:
Album Kucing di Facebook
Album Kucing Persia di Multiply

Peralatan
Untuk pemotretan ini, gear yang saya pakai sangat standar, yaitu:
Kamera: DSLR Sony A-200
Lensa: Sony DT 18-70 mm (kit)
ISO: 400-1600
Mode: variasi: P, S, A

Beberapa hal yang saya dapat dari pemotretan:
1. Pencahayaan
Untuk pencahayaan ini lebih baik menggunakan ambience light (cahaya ruangan, alami) dan bukan menggunakan flash. Kalaupun menggunakan flash, arahnya harus di-bounce atau menggunakan flash external dari samping, tujuannya untuk menghindari kilatan flash di mata kucing dan bayangan gelap di sekitar obyek.
Jadi ketika si kucing masuk ruang, saya pilih pakai ISO tinggi untuk mempertahankan speed, hasilnya nanti bisa di-edit pakai Noiseware. Lebih gampang me-remove noise ketimbang ngilangin bayangan & pantulan cahaya yang tidak natural.

2. Karakter
Setiap binatang punya karakter khas yang menarik untuk ditampilkan. Untuk kucing Persia yang jadi obyek kali ini, karakter khasnya adalah bulu yang tebal & hidung yang pesek, jadi diusahakan untuk selalu menampilkan karakter itu di setiap foto. Karakter ini juga bisa ditampilkan dengan menunjukkan lingkungan dan gaya yang disukai oleh si kucing. Misalnya foto si putih yang sedang nangkring di lengan sofa ini
Kalau peliharaan Anda punya mainan favorit, aksinya ketika sedang memainkannya pasti menarik untuk difoto.

3. Posisi/ angle
Posisi yang menarik adalah jika kamera berada selevel dengan si kucing. Dengan posisi ini, seluruh tubuh si kucing akan tampak "normal" dan si kucing tidak mendongak menghadap kamera. Posisi selevel juga menangkap gaya & ekspresi si kucing dengan lebih natural. Walaupun demikian, bisa diambil beberapa angle dari atas sebagai variasi.

4. Timing
Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, sewaktu saya datang, kucing2 ini baru selesai mandi dan tidak menarik untuk dipotret. Setelah diamati, ternyata kucing-kucing ini tetap memiliki bioritme, jadwal kegiatan alami yang bisa dimanfaatkan untuk mempermudah pemotretan. Pengamatan saya, pukul 9-10.30 adalah masa paling aktif, mereka berlari ke sana ke mari. Cukup repot & melelahkan untuk mengejar & mencari posisi yang tepat. Tapi pada pukul10.30, saat matahari terasa terik, mereka mulai mengurangi aktivitas dan mencari tempat teduh untuk "leyeh-leyeh", jadi lebih mudah untuk didekati.
Kesimpulan saya, jika sebelumnya kita sudah mengatahui "kebiasaan" subyek, maka pemotretan akan menjadi lebih mudah dan kita bisa menghemat waktu.

Jika Anda tertarik untuk memotret hewan peliharaan Anda dan perlu tips lebih banyak, silakan download:
Pet Photography Tips
Silakan ditambahkan jika ada masukan lain ya.

Sabtu, 18 September 2010

Memperkecil Ukuran Foto

Salah satu pesan yang sering saya dengar dari teman-teman fotografer adalah:
"Jangan meng-upload file asli foto ke Internet"

Sebuah foto - bagaimanapun hasil dan kualitasnya - merupakan karya cipta yang berharga. Sebuah foto yang di-upload begitu saja ke Internet dapat diibaratkan menjatuhkan barang di tengah jalan sehingga dapat digunakan oleh siapa saja yang lewat tanpa perlu meminta izin Anda. Oleh karena itu, supaya foto tidak dapat digunakan secara bebas, berikan pengamanan secukupnya, misalnya dengan memberi watermark atau paling tidak dengan memperkecil ukurannya. Penyesuaian ukuran ini dilakukan terhadap dimensi pixel maupun kualitasnya, adapun batas ukuran yang "aman" untuk di-upload - menurut pendapat beberapa fotografer yang saya kenal - adalah
  • sisi terpanjang maksimal 900 pixel
  • lakukan kompresi hingga ukuran filenya tidak lebih dari 200 kb
Lalu bagaimana caranya melakukan hal itu?
Ada banyak software yang dapat melakukan resizing dan compress, misalnya adobe Photoshop, Corel Photopaint, GIMP, dll. Setiap kamera biasanya juga dilengkapi dengan CD untuk olah digital sederhana yang dapat melakukan fungsi resize dan kompresi. Namun jika Anda terbiasa menggunakan Microsoft Office, sebetulnya telah tersedia aplikasi dalam paket yang mungkin selama ini jarang Anda manfaatkan, yaitu Microsoft Office Picture Manager. Aplikasi ini dapat melakukan fungsi-fungsi dasar editing gambar, misalnya cropping, rotate, resize, mengatur saturasi warna, brightness, dan kontras. MS Picture Manager pada Office 2007 yang saya pakai juga bisa melakukan koreksi warna (color correction) dan mengurangi efek mata merah (red-eye reduction)

Sebelum melakukan editing, ada baiknya Anda meng-copy file foto yang akan di-edit ke file atau folder baru, Ini bertujuan untuk mencegah file asli mengalami kerusakan jika terjadi kesalahan dalam editing. Adapun-langkah-langkah resize foto dengan Microsoft Office Picture Manager adalah sebagai berikut:
  1.  Buka file Anda pada Windows Explorer, ada baiknya menggunakan mode Thumbnails atau Film Strip untuk memudahkan. Klik kanan pada foto yang akan di-edit lalu pilih "Open with" dan klik Microsoft Picture Manager   
  2.  Gambar yang Anda pilih akan terbuka di Window baru. Untuk melakukan resize, klik Alt+P atau klik Picture pada Menu Taskbar, Akan tampil scroll down menu dengan item Resize 
  3. Setelah pilihan Resize di-klik, akan muncul edit Window di kolom kanan. Ada beberapa pilihan cara resize yang dapat Anda manfaatkan, namun supaya cepat, saya akan memilih Predefined Size dan meng-klik Website Image (640 x 480 pix) 
  4. Setelah meng-klik tombol OK di kanan bawah, akan tampak oerubahan ukuran gambar pada display review
  5. Langkah terakhir, merupakan langkah paling penting untuk mempertahankan kualitas dan keaslian file foto, yaitu dengan meng-klik File lalu klik Save As .... Anda dapat memilih nama apa pun untuk file yang diperoleh
  6. Tutup Windows Microsoft Office Picture Manager. Jika ditawarkan untuk melakukan "save" pada editing yang telah dilakukan, pilih NO. Jangan sampai melakukan kesalahan dengan memilih YES, karena langkah ini akan men-save pada file awal.
Selamat mempraktekkan.

Uruta-urutan kerja dalam bentuk file gambar: (klik pada gambar untuk melihat ukuran penuh)


Minggu, 05 September 2010

Belajar bersama Aryono huboyo Djati

Melalui pesan dari Irfan A. Tachrir, saya dapat kesempatan sangat bagus untuk belajar tentang street photography dan human interest bersama Aryono Huboyo Djati (AHD). Bukan lewat seminar atau workshop, tetapi dari praktek lapangan, ditambah berbagai pelajaran sembari duduk di tempat ngopi.
Untuk yang belum mengenal AHD, silakan klik dan ikuti link dari 2 blog berikut ini:
 http://steveadinegoro.blog.friendster.com/2006/05/aryono-huboyo-djati-one-of-the-greatest-man-ive-ever-known/


http://imagetabble.blogspot.com/2010/06/photographer-between-fine-art-and.html


Bagi AHD, street photography & human interest bukanlah sekedar candid photography. Interaksi dan komunikasi dengan subyek  merupakan unsur penting sehingga subyek benar-benar terlibat dengan kesadaran penuh. Subyek-subyek dalam foto AHD tampak natural, cerah dan tidak dibuat-buat, bukan karena difoto secara sembunyi-sembunyi, tetapi karena merasa aman & nyaman karena difoto oleh seseorang yang dikenalnya dengan baik. Menurut AHD, photography adalah sarana untuk mengkomunikasikan konsep secara visual, memanfaatkan simbol-simbol yang dapat ditangkap oleh pemirsanya. Plat nomor ojek motor, keranjang rotan, rumah kayu, tangga, bola, dsb menjadi sarana untuk menyampaikan ide.

Dalam foto-fotonya, manusia yang menjadi subyek bukan hanya tampak indah, tetapi juga berkarakter. Seorang pedagang plastik yang sederhana tetap dapat tampil dengan harga diri, bukan miskin dan memelas. Dengan ramah dan rendah hati, AHD mampu melakukan pendekatan ke berbagai kalangan - dari anak-anak balita hingga orang tua, pedagang minuman, tukang loak, penjahit, pedagang buah - jika Anda sudah meng-klik link yang saya beri di atas tadi dan melihat karya-karyanya, tentu akan Anda lihat bahwa para pejabat puncak negeri ini pun telah menjadi subyek fotonya. Penguasaan bahasa dan psikologi menjadi sarana pendekatan yang efektif. Selain menguasai bahasa Indonesia, Inggris & Jepang (AHD adalah S3 Biologi Kelautan dari Todai University) dan berbagai bahasa daerah, AHD juga memahami bagaimana harus memposisikan diri terhadap manusia dari berbagai suku bangsa. Ketika berbicara dengan Manulang, seorang perajin rotan di tepi jalan Pekanbaru-Rumbai, AHD mengutip sebuah do'a dalam bahasa Batak - spontan Manulang menjadi akrab dan mampu tampil menjadi model yang sangat kooperatif.



Dalam perjalanan pemotretan, AHD membawa peralatan minimalis dalam sebuah tas selempang: kamera DSLR full-frame plus lensa 10-22 mm dan 50 mm. Tambahan alat yang menarik adalah sebuah kamera panorama dengan media film. Cahaya yang dipakai adalah ambient light, memanfaatkan cahaya dalam ruangan secara maksimal. Kejelian seorang fotografer andal saya pelajari sepanjang perjalanan bermotor bersama AHD. Ada banyal "property" yang ditunjukkannya: pintu gerbang dengan tanda salib besar di sebuah sekolah dasar, bangunan yang dindingnya runtuh di pinggir jalan, sepeda onthel, tonggak-tonggak kayu dalam sebuah parit besar yang tergenang air, dsb. "Kalau ada GPS, ambil dan tandai lokasi-lokasi tadi, jadi kamu bisa kembali sewaktu-waktu jika diperlukan", katanya. Ada banyak hal yang bisa dimanfaatkan sepanjang kita jeli dan kreatif, tegasnya ;agi.


Dengan begitu banyak kemampuan dan pengalaman, tentu tak mengherankan jika salah satu fotonya dapat terjual dengan harga Rp 700jt.

Rabu, 18 Agustus 2010

Reduksi Noise dengan Imagenomics Noiseware

Noise merupakan salah satu concern fotografer pada foto yang dihasilkan pada ISO tinggi. Dari berbagai diskusi, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba Imagenomics noiseware, sebuah Plugins yang ditambahkan ke Adobe Photoshop.


Hasil penerapan aplikasi software saya bandingkan pada foto berikut:


Cukup efektif dan tetap mempertahankan sebagian besar detil yang ada. 

Software ini dapat Anda download dari:
http://rapidshare.com/files/52940443/imagenomicnoisewareprofessionalv4.1.0.5.rar 

Setelah Anda download dan extraxct, akan diperoleh 2 file, yaitu:
1. Imagenomics installer
2. Patch.exe 

Untuk menggunakannya, tentunya harus Anda install dulu, lalu setelah selesai menginstall, jalankan patch.exe. Untuk patching ini, pastikan bahwa proses patching dilakukan pada file plug-in Imagenomics yang ada di folder Program Files/Photoshop/plugins/Imagenomics/ dan bukan pada file yang ada di Program Files/Imagenomics/
Setelah proses patching selesai, Anda dapat membuka file gambar yang akan diperbaiki di Photoshop. Noiseware ini dapat dioperasikan dari tab Filter --> Plugins --> Imagenomics --> Noiseware.

Selamat mencoba!