Tampilkan postingan dengan label white balance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label white balance. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Mei 2010

Catatan Workshop Fotografi - Antara Analog dan Digital

Berikut adalah hasil workshop fotografi bersama Makarios Soekojo yang memberikan pemahaman sangat mendasar mengenai fotografi, yaitu hubungan antara cahaya, foto, dan teknologi

Fotografi – Analog dan Digital
Fotografi digital memiliki perbedaan mendasar dengan fotografi pada masa film analog. Beberapa perbedaan adalah:
  1. Kamera analog berfungsi untuk menangkap cahaya & melakukan proses kimia untuk menghasilkan gambarm sedangkan kamera digital memiliki fungsi utama menangkap data cahaya
  2. Hasil yang diperoleh dari kamera & film analog merupakan hasil setengah jadi, proses cuci cetak hanya berperan sekitar 20% saja, sedangkan pada foto digital, proses olah digital memegang peran hingga 80% dari data yang dihasilkan kamera
  3. Proses kimia pada film analog memungkinkan munculnya warna-warna yang sebelumnya tidak tampak oleh mata, sedangkan proses digital sebenarnya justru mereduksi warna yang dapat dilihat oleh mata
  4. Kamera dan film analog tidak sensitif terhadap arah datangnya cahaya, namun sensor pada kamera digital hanya bekerja maksimum pada cahaya yang jatuh tegak lurus, akibatnya akan timbul vignette pada bagian tepi gambar, terutama pada kamera full-frame.
  5. Kamera dan film analog sensitif terhadap cahaya ultraviolet, penggunaan filter UV sangat mempengaruhi hasil, sedangkan sensor kamera digital pada dasarnya tidak sensitif terhadap UV, Penggunaan filter UV hanya utk proteksi dan dalam banyak kasus justru merusak kualitas hasil

Perbedaan teknologi digital dan analog menyebabkan munculnya proses kerja antara fotografer masa lalu dengan fotografer masa kini. Pada masa analog, dituntut pemahaman terhadap setting kamera, imajinasi & pengalaman fotografer. Fotografi digital memberi kemudahan pada banyak orang, sekaligus menuntut pemahaman terhadap proses olah digital untuk menghasilkan foto terbaik.

Fotografi dan Pencahayaan
Modal dasar untuk menghasilkan sebuah foto yang bagus adalah cahaya yang juga bagus. Ungkapan yang saya ingat dari workshop ini adalah “memproses sampah hanya akan menghasilkan sampah”, maksudnya jika data awal yang ditangkap oleh kamera tidak bagus, maka proses digital tidak akan pernah memberikan hasil yang bagus. Proses digital hanya dapat memperbaiki data yang bagus, tetapi tidak dapat mengubah data yang jelek menjadi hasil yang bagus.
Beberapa tips untuk menghasilkan foto yang baik:
  1. Kualitas optik yang unggul
    Perangkat optik kamera merupakan modal utama untuk mengumpulkan data cahaya, oleh karena itu selalu usahakan menggunakan lensa terbaik yang sesuai dengan kebutuhan.
  2. Sistem & teknologi
    Ada banyak sistem yang ditawarkan dan berbagai teknologi yang memudahkan untuk melakukan pemotretan. Manfaatkan sistem & teknologi ini semaksimal mungkin. Tidak perlu malu menggunakan fitur auto.
  3. Setting white balance
    Setting WB yang direkomendasikan adalah Daylight dan Auto saja, tujuannya agar data cahaya diterima apa adanya, Penggunaan setting WB yang lain akan mengubah data dasar sehingga tidak dapat lagi dikembalikan ke asalnya.
  4. Setting ISO
    Sebaiknya gunakan ISO terendah yang disediakan oleh kamera. ISO yang lebih tinggi sebenarnya merupakan hasil proses digital dari data yang tidak lengkap sehingga pasti berpengaruh pada kualitas hasil
  5. Waktu pemotretan
    Cahaya yang terbaik adalah cahaya yang memiliki intensitas tinggi. Semakin terang semakin baik. Oleh karena itu pemotretan hendaknya dilaksanakan pada jam kantor (08.30 – 16.00)


“Tidak ada penghematan dalam fotografi”, begitulah kesimpulan dari workshop ini. Artinya, kita tidak dapat berkompromi dalam hal kualitas. Alat dengan kemampuan terbaik dan kualitas tertinggi akan memberi potensi yang terbaik untuk menghasilkan foto yang bagus.

Jumat, 18 Desember 2009

Teknik - White Balance

Putih sebagai Standar Warna


Mungkin ada yang pernah memotret obyek, kemudian menyadari bahwa kamera merakam warna yang salah. Warna merah berubah menjadi jingga, atau hijau menjadi kuning. Ini mungkin disebabkan oleh kesalahan kamera dalam memilih warna 'putih'.
Kamera sebenarnya tidak benar-benar mengenali warna. Yang ditampilkan oleh kamera adalah seberapa jauh perbedaan frekuensi cahaya pantulan dari suatu obyek terhadap suatu frekuensi cahaya lain yang menjadi standar pembanding. Pemahaman mengenai proses reproduksi warna ini sangat penting dalam fotografi yang meemerlukan tingkat akurasi warna tinggi, misalnya dalam foto produk, warna kain, grafis cahaya, dsb.
Berikut ini adalah foto dari obyek yang sama, dipotret dengan beberapa mode white Balance yang berbeda:

Auto White Balance


Warna 'putih' dipilih sebagai standar pembanding karena warna ini bersifat netral. Pada kondisi cahaya berfrekuensi lengkap, warna putih akan memantulkan semua frekuensi cahaya, sehingga obyek berwarna putih adalah obyek yang memantulkan cahaya dengan intensitas paling tinggi. Namun karena sifatnya yang netral, putih akan merah jika diterangi oleh lampu berwarna merah, tampak biru di bawah cahaya lampu biru, dan seterusnya. Berdasarkan kondisi tersebut, Auto-WB pada kamera diatur untuk mengenali 'pantulan obyek dengan intensitas tertinggi' dan menggunakannya sebagai standar warna 'putih' untuk melakukan koreksi warna.
Akibatnya, pada kondisi-kondisi tertentu, kamera dapat mereproduksi warna yang keliru karena tidak ada benda berwarna putih pada obyek yang ditangkapnya. Dalam kondisi ini diperlukan kecermatan fotografer untuk membantu kamera melakukan koreksi warna.

Preset White Balance


Untuk melakukan koreksi warna, biasanya tersedia beberapa pilihan Preset WB pada kamera digital. Misalnya:
  • Fine, digunakan pada kondisi pemotretan outdoor siang hari dengan kondisi cahaya matahari terang
  • Shade,atau dalam beberapa tipe disebut Cloudy digunakan pada kondisi pemotretan outdoor dengan kondisi matahari terhalang atau tertutup awan
  • Fluorescent, digunakan untuk pemotretan dalam ruang dengan pencahayaan lampu neon
  • Incandescent, digunakan untuk pemotretan dalam ruang dengan pencahayaan lampu pijar/ tungsten

Pada dasarnya, urutan dari Fine sampai ke Incandescent didasarkan pada perbedaan suhu dari setiap warna cahaya. Penjelasannya akan disampaikan di bawah.

Kelvin White Balance


Kelvin WB, biasanya terdapat pada kamera DSLR profesional, didasarkan pada pemahaman fisika bahwa benda dengan suhu tertentu akan memancarkan cahaya dengan frekuensi tertentu pula. Cahaya matahari dipancarkan oleh benda dengan suhu 5500K. Lampu neon memiliki suhu 4000K, lampu pijar 3000K.
Kesalahan dalam pengaturan derajat Kelvin akan menghasilkan warna yang keliru. Patokannya:
  • Jika foto yang dihasilkan berwarna kebiruan, berarti setting temperatur terlalu rendah
  • Jika foto yang dihasilkan berwarna kekuningan, berarti setting temperatur terlalu tinggi


Custom White balance


Pemilihan pengaturan WB dengan Preset atau kelvin mungkin dianggap ribet saat fotografer tidak bisa memutuskan setting yang tepat. Beberapa kamera dilengkapi dengan pilihan Custom WB sebagai alternatif terakhir. Pada setting ini, kamera digunakan untuk memotret dan merekam warna yang dijadikan standar putih, dan selanjutnya warna ini akan digunakan untuk melakukan koreksi warna untuk obyek yang lain. Jadi fotografer cukup mengantongi selembar karton putih sebagai standar jika sewaktu-waktu diperlukan.
Uniknya, dengan cara ini, bisa digunakan warna lain selain putih sebagai standar, sehingga dapat dihasilkan 'false color' - kesalahan tonal warna yang disengaja untuk mendapatkan mood bagi sebuah foto. Misalnya untuk memperoleh kesan 'hangat' foto dibuat bernuansa kekuning-kuningan. Sebaliknya, untuk memperoleh kesan 'dingin' foto dibuat bernuansa kebiru-biruan.

Lalu seperti apa sebenarnya warna obyek yang saya potret di atas?
Dengan Custom WB pada sebuah karton putih, ini hasilnya:

Semoga bermanfaat