Kamis, 10 Februari 2011

Photographer's Notes - Shot List

Ini sebetulnya sebagian dari percakapan saya dengan fotografer senior Aryono Huboyo Djati (AHD) di Mall Ambassador beberapa bulan lalu. Baru terpikir untuk menuliskannya ketika seorang teman mengeluh selalu ketinggalan momen sewaktu hunting Street Photography.

Masalahnya adalah, teman tersaebut tidak mengantisipasi, momen apa yang mungkin dia temui dalam suatu lokasi di waktu tertentu. Akibatnya, dia gagal mengantisipasi setiap momen karena masih berkutat dengan setting kamera saat sesuatu terjadi. Dia juga tidak sempat berinteraksi untuk mengkondisikan subyek agar cocok dengan konsep. Fotografi adalah sebuah proses. sebagaimana semua profesi yang lain, seorang fotografer tidak dapat mengandalkan kebetulan tetapi harus berusaha untuk mendapatkan momen yang terbaik dengan properti yang tersedia. Itulah perlunya memiliki Photographer's Notes atau Shot List.

Photographer Notes atau Shot List adalah sebuah catatan yang berisi konsep atau sketsa kondisi yang bisa ditemui dalam sebuah proses hunting atau sesi foto. Dalam catatan ini fotografer - berdasarkan pengalaman atau eksplorasinya - sudah memperkirakan momen apa saja yang dapat terjadi dengan memperhitungkan kondisi lokasi, cuaca, dan berbagai faktor lainnya. Sebagai seorang fotografer yang banyak berkarya dalam kategori human interest, AHD beberapa kali menyebutkan bahwa human interest ataupun street photography tidaklah sama dengan candid

AHD waktu itu memberi contoh:
Lokasi pemotretan: Jembatan Penyeberangan
Waktu: Siang hari menjelang sore
Dari data tersebut, maka dibuat pemetaan yang lebih spesifik untuk dieksplorasi, misalnya:
(1) Bagian mana dari jembatan yang akan dimanfaatkan: tiangnya, tangganya, di atas jembatan dsb
(2) Siapa subyek yang dapat ditemui: anak-anak, gadis remaja, nenek tua, dsb
(3) Sedang apa subyek saat itu: berjalan, menunggu, berjualan, dsb
(4) Faktor highlight & bayangan
(5) dsb

Tambahan dari AHD setelah membaca artikel ini, tentang pentingnya konsep:
 "konsistensi terhadap tema yg mau difoto, semisal di jembatan penyeberangan banyak yg bagus utk direkam,... dalam prakteknya kita kudu targetin semisal 'kaki2 penyeberang',... kalo toh nantinya diantara kaki2 ada pengemis tertidur,... anggap saja bonus dari variant kaki2 dimaksud"

(dikirim via Facebook, matur nuwun sanget untuk tambahan ilmunya) 

AHD juga memberikan link sebagai bahan bacaan tambahan: Lihat Sekitar & Lebih Sensitif

Dari contoh tersebut, kita dapat mengembangkannya ke berbagai lokasi lain, seperti: lampu lalu lintas, taman kota, monumen, museum, dsb. Kalau perlu, kita dapat melakukan conditioning, mengkondisikan subyek agar berada di lokasi terbaik pada waktu yang paling tepat. Survei sebelum pemotretan tentu akan memberi manfaat yang besar. Seringkali seorang fotografer harus datang lagi ke suatu tempat untuk memperoleh momen yang terbaik. Dengan langkah-langkah dan persiapan yang baik, maka kita tidak perlu membuang terlalu banyak frame untuk foto-foto yang kurang memuaskan.

Catatan ini juga dapat dipelajari & dievaluasi kembali sehingga fotografer semakin terlatih & tanggap terhadap kondisi sekelilingnya. Oleh karena itu, saya setuju sekali dengan kutipan yang digunakan Frunze (seorang rekan di komunitas Alpharian) dalam signature-nya: "Fotografer sejati adalah Fotografer yang mau menghargai sebuah foto tidak hanya dari hasilnya, tetapi juga prosesnya."

Keep jepret!
Salam  :) 

Senin, 24 Januari 2011

Macro dengan Extension Tube

Fotografi makro merupakan kategori yang menarik bagi banyak orang. Banyak alternatif untuk membuat foto makro, sebagaimana yang sudah saya tulis dalam artikel terdahulu, atau menggunakan reversed lens seperti yg dilakukan rekan saya Roi Rungkadi Ismail dan Adrianus Juniarno. Artikel & diskusi lengkap silakan di-klik ke Fotografer.Net
Reversed lens & flash diffuser by Roi Ismail
 Reversed lens by Adrianus Juniarno

Extension Tube merupakan alat tambahan yang murah & efektif untuk foto macro. Prinsip dasar alat ini adalah menjauhkan jarak lensa dari kamera, sehingga bayangan obyek paling tajam jatuh pada R3, yaitu jarak antara 2f dan tak hingga (f = focal length, jarak fokus lensa). Efeknya, image yang diterima oleh sensor adalah sama atau lebih besar daripada obyek aslinya.
Dengan prinsip seperti di atas, extension tube dapat dibuat sendiri dengan menggunakan berbagai macam tabung, di seperti pipa paralon, tutup botol hairspray, kaleng minuman ringan, dsb sepanjang diameternya cocok dengan lensa yang akan kita gunakan. Pada test kali ini, saya menggunakan lensa M42 dengan extension tube yang saya beli dari Mas Teguh (paijo43) di bursa Alpharian.com seharga Rp 100.000. bentuk barangnya seperti ini:
Extension tube ini terdiri dari 3 bagian, yaitu tabung 1 cm, 2 cm, dan 4 cm. Kita bisa mengkombinasikan pemakaiannya sehingga diperoleh variasi jarak antara 1 cm s.d 7 cm. Extension tube ini saya pasangkan pada lensa Helios 2/58 M44-2 seperti ini:
Lalu dipasangkan pada kamera Sony a200 seperti ini:
Hasilnya, lensa Helios M44-2 yang memiliki jarak obyek normal minimum 48 cm, dengan berbagai kombinasi dapat memotret obyek pada jarak 7 s.d 20 cm. Keuntungan dari penggunaan macro extension tube dibandingkan metode yang lain adalah:
  1. Pemasangan yang mudah
  2. Dapat dikombinasi sedemikian untuk memperoleh jarak ideal
  3. Tidak memiliki elemen optik sehingga tidak mempengaruhi kualitas lensa
Namun demikian, macro extension tube tetap memiliki kelemahan, yaitu:
  1. Focusing ring tidak bekerja, kamera harus digerakkan maju mundur untuk memperoleh hasil paling tajam
  2. F-stop turun 1-2 stop tergantung panjang tube yang digunakan
Hasil pemotretan dengan extension tube sebagai berikut:
Obyek test 
Jarak terdekat normal: 48 cm
  Sony A200 + Helios + Macro ext 1 cm
  Sony A200 + Helios + Macro ext 3 cm
Sony A200 + Helios + Macro ext 7 cm 
Selamat mencoba

Jumat, 21 Januari 2011

Lensa Manual di Body Digital

Yang dimaksud dengan lensa manual adalah lensa-lensa dari jaman kamera film (analog) yang belum memiliki fasilitas autofocus. Karena belum ada fasilitas autofocus tersebut, jadi kita harus memutar-mutar focusing ring-nya untuk memperoleh fokus yang tepat.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan lensa manual menjadi menarik, di antaranya:
  1. Unik, karena mengundang pertanyaan dari rekan-rekan kalau hunting
  2. Bokeh, beberapa memiliki ciri yang khas dan menghasilkan foto yang menarik. 
  3. Optik, kualitas & ketajamannya tidak kalah dengan lensa-lensa baru
  4.  Harga yang relatif lebih murah daripada lensa baru. 
Beberapa lensa manual memiliki bokeh yang swirly, istilah yang merujuk pada bentuk melingkar pada latar belakang yang blur sebagaimana pada contoh berikut:

Coating pada lensa manual juga dapat menghasilkan tonal warna yang khas, seperti perbandingan berikut:

Asyiknya, banyak lensa manual yang dapat dimiliki dengan harga di bawah Rp 1.000.000. Bahkan ada yang harganya di bawah Rp 500.000.

Namun demikian, adabeberapa hal yang harus diperhatikan dari lensa-lensa ini, yaitu:
  1. Adapter yangtepat, diperlukan untuk "menyambung" lensa ke body. Adapter ini juga diperlukan untuk "menipu" body karena beberapa body kamera tidak mau melepas shutter jika tidak ada lensa yang terpasang.
  2. Coating, kebanyakan masih memakai single coating atau bahkan tanpa coating, sehingga sangat rentan terhadap flare jika memotret dengan arah cahaya yang tidak tepat.
  3. Keausan mekanis, menyebabkan beberapa lensa lama ambrol bagian aperture-nya walau baru dipakai beberapa kali. Ini bisa dirasakan dari kelancaran saat memutar focusing ring dan aperture ring.
  4. Kerjasama tangan & mata harus baik untuk menjamin diperolehnya gambar yang tajam. 
 Alhamdulillah, saya dapat "warisan" adapter M42 to Sony Alpha dari AHD. Adapter dengan chip AF confirm ini sangat membantu dalam pemotretan karena ada bunyi "beep" yang muncul saat obyek masuk ke fokus. Untuk latihan, saya dapat pinjaman Carl Zeiss Pancolar 50 mm f/1.8 dari kang Irfan Tachrir. Belakangan, saya dapat Helios M44-2 dengan jarak fokus 58 mm dan bukaan maksimal f/2 yang saya beli dari Kang Saeful di Bogor.

Ini foto lensa Helio M44-2 yang terpasang di body Sony Alpha A-200:
 Mau tau le bih banyak soal lensa manual dan community-nya? Silakan klik Lensa-Manual.Net

Minggu, 09 Januari 2011

Prosumer Superzoom Masih Tetap Menarik

Walaupun kamera DSLR semakin terjangkau dan banyak inovasi dari kamera tanpa cermin yang ringkas, tetapi produk prosumer superzoom tetap menarik minat para pehobi fotografi. Dari catatan di blog ini saja, tanggapan untuk artikel Kamera Superzoom 2 Jutaan masih terus muncul. Saya, dengan berbagai pertimbangan, terpaksa mengabaikan beberapa pertanyaan yang pada dasarnya sudah pernah ditanyakan.
Paling tidak, ada 5 keunggulan dari kamera prosumer superzoom ini:
1. Range fokus lensa yang lebar, cocok dipakai di berbagai kesempatan
2. Bentuk yang ringkas
3. Bobot yang ringan
4. Keleluasaan setting (P, A, S, M dan Scene program)
5.  Harga yang terjangkau
Sudah tentu tiada gading yang tak retak, semua produk mempunyai kelemahan. Sensor yang kecil akan memberi keterbatasan dalam kondisi cahaya yang kurang (lowlight) dan penggunaan ISO tinggi. Namun jika Anda penyuka fotografi makro, kamera prosumer superzoom ini sangat menguntungkan, silakan lihat artikel Close Up Macro Photography dan beberapa artikel tentang macro lainnya.

Perkembangan teknologi dan munculnya produk-produk baru membuat pilihan yang tertulis dalam artikel sebelumnya menjadi out-of-date . Jika Anda bermaksud membeli prosumer superzoom saat tulisan ini dibuat, beberapa pilihan di kisaran harga Rp 2.000.000 yang dapat dipertimbangkan adalah:
- Canon SX130 IS atau SX210IS
- Casio exilim EX-H5
- Fujifilm S1600, S1800, S1900, S2500, S2550, S2800
- Nikon L110, P8000, P9100
- Olympus SP600UZ
- Panasonic Lumix TZ7, FZ28
- Sony H55

Mungkin masih ada yang lain belum tertulis, tapi saya yakin alternatif pilihan yang sudah disebut di atas itu cukup membingungkan Anda untuk memilih salah satu yang paling cocok ...hehehe ...
Penekanannya, pilih yang paling cocok.  Kenapa bukan yang terbaik?
Karena yang terbaik mungkin tidak tersedia di lokasi Anda. mungkin pula harganya tak terjangkau, dsb. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah pilih kamera yang bergaransi resmi dan service point-nya mudah dijangkau dari lokasi Anda. Ini akan memudahkan Anda jika ada kesulitan atau masalah pada unit yang Anda beli.

Rabu, 15 Desember 2010

Drybox Alternatif

Seiring dengan pertambahan peralatan memotret, mulai terasa penuhnya tas yang biasa saya bawa. Saat ini, secara keseluruhan ada 4 kamera digital (1 DSLR, 2 prosumer, 1 poket), 1 kamera SLR, 6 lensa, 2 flash, ditambah berbagai filter. Yang jelas, tidak semuanya dibawa kalau mau motret. Artinya, harus ada tempat penyimpanan untuk alat-alat yang sedang tidak digunakan.

Drybox atau dry cabinet tentunya merupakan jawaban yang paling logis untuk tempat penyimpanan ini. Tapi tahu sendiri kan, berapa harganya barang itu? Jadi sebagai alternatif, saya pergi ke Ace Hardware untuk membeli:
1 unit storage container plastic with handle
ukuran 28 cm x 40 cm x 28 cm, harga Rp 48.000
1 kitchen tray plastic
ukuran 28 cm x 22 cm x 15 cm, harga Rp 12.000


Untuk menjamin agar di dalam box tersebut tetap kering dan memantau suhunya, saya hubungi seller di sebuah bursa fotografi untuk membeli sepaket perlengkapan senilai Rp 140.000 yang berisi:
1 higrometer
1 termometer
1 kg silica gel biru

Awalnya saya bermaksud membeli silica gel elektrik yang bisa recycle, tapi barangnya tidak tersedia, jadi untuk sementara saya pikir silica gel biru cukuplah. Paket silica gel biru ini datang bersama 50 buah kantong plastik kecil, jadi setiap kantong kecil bisa diisi 20 gr. Kantong kecil yang sudah diisi silica gel harus dilubangi/ ditusuk-tusuk dengan jarum jika akan digunakan. Biasanya setiap kantong saya beri 10 lubang dan saya letakkan 2 atau 3 kantong dalam box. Silica gel harus diganti jika warna biru memudar menjadi merah atau bening.

Untuk pengujian awal, kotak saya bersihkan lalu saya letakkan termometer dan higrometer dan kotak ditutup. Setelah 15 menit, saya tengok kembali dan melihat bahwa temperatur di dalamnya adalah 28 derajat Celcius dengan kelembaban 80%. Masih belum cocok untuk menyimpan lensa-lensa.

Lalu saya letakkan 2 bungkus silica gel, kotak ditutup dan didiamkan selama 2 jam. Setelah saya tengok kembali, ternyata suhu tetap 28 derajat Celcius, tetapi kelembaban turun hingga 50%. sebagaimana tampak pada foto berikut


Sippp, jadilah lensa-lensa mulai saya tata di dalam kotak tersebut. Tray plastik ukuran 28 cm x 22 cm x 15 cm sengaja saya beli sehingga ada ruang khusus untuk menempatkan lensa secara terpisah dari peralatan lain.
Dua jam kemudian, saya cek kembali, ternyata temperatur dan kelembanban menunjukkan angka 28 derajat Celcius dan 40%. Alhamdulillah, jadi aman. Total biaya yang dikeluarkan untuk pembelian barang adalah Rp 200.000. Biar murah, yang penting efektif.

Yang memerlukan paket termometer, higrometer, dan silica gel, bisa klik link ini:
Hygrometer+Thermometer+Silica Gel

Sabtu, 11 Desember 2010

Close Up/ Macro Photography: DSLR vs Prosumer

Beberapa rekan tertarik untuk menekuni dunia kecil yang biasa dikenal dengan close-up photography atau lebih populer dengan istilah makro, akan tetapi merasa bahwa alatnya belum mencukupi. Padahal sebetulnya untuk foto-foto close-up, tidak diperlukan peralatan yang terlalu canggih. Kamera poket pun bisa digunakan untuk foto makro, bahkan punya beberapa kaunggulan karena adanya live-view dan DoF yg lebar (baca catatan saya sebelumnya tentang Aperture di kamera DSLR, prosumer dan poket)


Jika foto obyek yang diperoleh dirasa kurang besar, bisa ditambahkan close-up filter. Ada beberapa pilihan untuk tambahan filter ini:
1. Filter high-end sejenis Raynox Supermacro Scan DCR 250 (harga Rp 900rb)
2. Filter close-up Kenko +1, +2, +4 atau sejenisnya (Rp 200-800rb, tergantung ukuran ring)
3. Membuat sendiri (harga bervariasi, tergantung kreativitas)

Pada kesempatan ini saya coba bandingkan hasil foto close-up pada sebuah obyek berukuran 5 mm x 50 mm. Pemotretan dilakukan di dalam ruangan dengan cahaya dari lampu baca ditambah dengan kertas putih sebagai reflektor. Obyek ditempatkan pada sebuah meja kecil seperti ini:

Untuk memberi gambaran ukuran obyek yang sebenarnya, silakan perhatikan foto saat pemotretan dilakukan dengan cara seperti ini:

Hasil yang diperoleh:
1. Kamera prosumer Canon SX 20 IS ditambah filter close-up buatan sendiri

2. Kamera Sony A200 + Tamron 18-200 mm + Raynox DCR 250

Kedua kamera memiliki resolusi tertinggi 10 MP. Kamera prosumer Canon SX20 IS pada dasarnya tidak berbeda dengan poket karena sama-sama menggunakan sensor 1/2.5 in. Kamera Sony A200 adalah DSLR entry level dengan sensor APS-C. Dari kedua foto di atas tampak bahwa tidak ada perbedaan signifikan selama intensitas cahaya cukup.

Filter close-up yang dipasang pada Canon SX 20 IS adalah lensa cembung yang diambil dari sebuah lensa lama dan dipasang pada ring filter 52 mm, sehingga bisa dipasang pada thread lensa kamera. Lensa untuk filter ini, bisa juga menggunakan kaca pembesar atau lup. Jadi jika dinilai harganya mungkin Rp 100rb atau kurang.

Motret makro pakai poket? Siapa takut .... :-)

Rabu, 08 Desember 2010

Pilihan Lensa Vario



Bulan lalu lensa kit Sony DT 18-70 mm yang biasa terpasang di kamera rusak gear motonya, akibatnya setiap digunakan lensa itu berbunyi "rrrrr ...." dan sering ga dapat fokus. Sewaktu dbawa ke service centre, perkiraan biaya perbaikannya adalah Rp 500.000 dengan waktu perbaikan sekitar 2 minggu, yang artinya sama dengan harga lensa kit 2nd. Akan tetapi, mengingat kasus kerusakan gear tersebut cukup sering terjadi pada lensa kit (ada resiko lensa yang baru dibeli nantinya rusak lagi), akhirnya saya memutuskan untuk membeli lensa Minolta 28-80 Macro sebagai pengganti.

Walaupun lensa pengganti ini tidak sepenuhnya "digital design", tetapi saya menyukai adanya petunjuk jarak obyek yang memudahkan kita untuk melakukan focusing secara manual. Selain itu, lensa ini juga dilengkapi dengan fitur macro pada FL 80 mm, memberi hasil yang lebih menarik daripada lensa kit pada FL 70. Namun demikian, pada mode makro focusing harus dilakukan secara manual.


Tidak berselang lama, saya mendapat tawaran lensa sapujagad, yaitu Tamron 18-200 mm Di-II LD XR Aspherical Macro. Dengan memperhitungkan crop factor 1.5x. lensa ini pada dasarnya memiliki range yang seimbang dengan lensa sapujagad Sigma 28-300 mm yang pernah saya pakai bersama kamera Canon EOS 1000 FN (analog) bertahun-tahun yang lalu. Namun demikian, setelah melakukan beberapa kali tes, saya menemukan kelebihan & kekurangan dari setiap lensa yang ada.

Lensa Tamron 18-200 memang unggul dalam range sehingga praktis untuk dibawa dalam berbagai kesempatan. Tapi lensa ini bukannya tanpa kelemahan. Beberapa hal yang saya rasakan:
1. Distorsi di bagian tepi gambar pada posisi wide end (18 mm)
2. Ketajaman yang cenderung soft pada tele-end.
3. Respon yang lebih lambat

Lambatnya respon saat pencarian fokus kelihatannya disebabkan oleh berat lensa tersebut. Oleh karena itu saya tetap mempertahankan kedua lensa Minolta yang sudah saya miliki meskipun focus range-nya sudah tercover oleh si Tammy.

Lebih lengkap mengenai Tamron 18-200mm Di II LD XR Aspherical macro, silakan klik: