Minggu, 09 Januari 2011

Prosumer Superzoom Masih Tetap Menarik

Walaupun kamera DSLR semakin terjangkau dan banyak inovasi dari kamera tanpa cermin yang ringkas, tetapi produk prosumer superzoom tetap menarik minat para pehobi fotografi. Dari catatan di blog ini saja, tanggapan untuk artikel Kamera Superzoom 2 Jutaan masih terus muncul. Saya, dengan berbagai pertimbangan, terpaksa mengabaikan beberapa pertanyaan yang pada dasarnya sudah pernah ditanyakan.
Paling tidak, ada 5 keunggulan dari kamera prosumer superzoom ini:
1. Range fokus lensa yang lebar, cocok dipakai di berbagai kesempatan
2. Bentuk yang ringkas
3. Bobot yang ringan
4. Keleluasaan setting (P, A, S, M dan Scene program)
5.  Harga yang terjangkau
Sudah tentu tiada gading yang tak retak, semua produk mempunyai kelemahan. Sensor yang kecil akan memberi keterbatasan dalam kondisi cahaya yang kurang (lowlight) dan penggunaan ISO tinggi. Namun jika Anda penyuka fotografi makro, kamera prosumer superzoom ini sangat menguntungkan, silakan lihat artikel Close Up Macro Photography dan beberapa artikel tentang macro lainnya.

Perkembangan teknologi dan munculnya produk-produk baru membuat pilihan yang tertulis dalam artikel sebelumnya menjadi out-of-date . Jika Anda bermaksud membeli prosumer superzoom saat tulisan ini dibuat, beberapa pilihan di kisaran harga Rp 2.000.000 yang dapat dipertimbangkan adalah:
- Canon SX130 IS atau SX210IS
- Casio exilim EX-H5
- Fujifilm S1600, S1800, S1900, S2500, S2550, S2800
- Nikon L110, P8000, P9100
- Olympus SP600UZ
- Panasonic Lumix TZ7, FZ28
- Sony H55

Mungkin masih ada yang lain belum tertulis, tapi saya yakin alternatif pilihan yang sudah disebut di atas itu cukup membingungkan Anda untuk memilih salah satu yang paling cocok ...hehehe ...
Penekanannya, pilih yang paling cocok.  Kenapa bukan yang terbaik?
Karena yang terbaik mungkin tidak tersedia di lokasi Anda. mungkin pula harganya tak terjangkau, dsb. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah pilih kamera yang bergaransi resmi dan service point-nya mudah dijangkau dari lokasi Anda. Ini akan memudahkan Anda jika ada kesulitan atau masalah pada unit yang Anda beli.

Rabu, 15 Desember 2010

Drybox Alternatif

Seiring dengan pertambahan peralatan memotret, mulai terasa penuhnya tas yang biasa saya bawa. Saat ini, secara keseluruhan ada 4 kamera digital (1 DSLR, 2 prosumer, 1 poket), 1 kamera SLR, 6 lensa, 2 flash, ditambah berbagai filter. Yang jelas, tidak semuanya dibawa kalau mau motret. Artinya, harus ada tempat penyimpanan untuk alat-alat yang sedang tidak digunakan.

Drybox atau dry cabinet tentunya merupakan jawaban yang paling logis untuk tempat penyimpanan ini. Tapi tahu sendiri kan, berapa harganya barang itu? Jadi sebagai alternatif, saya pergi ke Ace Hardware untuk membeli:
1 unit storage container plastic with handle
ukuran 28 cm x 40 cm x 28 cm, harga Rp 48.000
1 kitchen tray plastic
ukuran 28 cm x 22 cm x 15 cm, harga Rp 12.000


Untuk menjamin agar di dalam box tersebut tetap kering dan memantau suhunya, saya hubungi seller di sebuah bursa fotografi untuk membeli sepaket perlengkapan senilai Rp 140.000 yang berisi:
1 higrometer
1 termometer
1 kg silica gel biru

Awalnya saya bermaksud membeli silica gel elektrik yang bisa recycle, tapi barangnya tidak tersedia, jadi untuk sementara saya pikir silica gel biru cukuplah. Paket silica gel biru ini datang bersama 50 buah kantong plastik kecil, jadi setiap kantong kecil bisa diisi 20 gr. Kantong kecil yang sudah diisi silica gel harus dilubangi/ ditusuk-tusuk dengan jarum jika akan digunakan. Biasanya setiap kantong saya beri 10 lubang dan saya letakkan 2 atau 3 kantong dalam box. Silica gel harus diganti jika warna biru memudar menjadi merah atau bening.

Untuk pengujian awal, kotak saya bersihkan lalu saya letakkan termometer dan higrometer dan kotak ditutup. Setelah 15 menit, saya tengok kembali dan melihat bahwa temperatur di dalamnya adalah 28 derajat Celcius dengan kelembaban 80%. Masih belum cocok untuk menyimpan lensa-lensa.

Lalu saya letakkan 2 bungkus silica gel, kotak ditutup dan didiamkan selama 2 jam. Setelah saya tengok kembali, ternyata suhu tetap 28 derajat Celcius, tetapi kelembaban turun hingga 50%. sebagaimana tampak pada foto berikut


Sippp, jadilah lensa-lensa mulai saya tata di dalam kotak tersebut. Tray plastik ukuran 28 cm x 22 cm x 15 cm sengaja saya beli sehingga ada ruang khusus untuk menempatkan lensa secara terpisah dari peralatan lain.
Dua jam kemudian, saya cek kembali, ternyata temperatur dan kelembanban menunjukkan angka 28 derajat Celcius dan 40%. Alhamdulillah, jadi aman. Total biaya yang dikeluarkan untuk pembelian barang adalah Rp 200.000. Biar murah, yang penting efektif.

Yang memerlukan paket termometer, higrometer, dan silica gel, bisa klik link ini:
Hygrometer+Thermometer+Silica Gel

Sabtu, 11 Desember 2010

Close Up/ Macro Photography: DSLR vs Prosumer

Beberapa rekan tertarik untuk menekuni dunia kecil yang biasa dikenal dengan close-up photography atau lebih populer dengan istilah makro, akan tetapi merasa bahwa alatnya belum mencukupi. Padahal sebetulnya untuk foto-foto close-up, tidak diperlukan peralatan yang terlalu canggih. Kamera poket pun bisa digunakan untuk foto makro, bahkan punya beberapa kaunggulan karena adanya live-view dan DoF yg lebar (baca catatan saya sebelumnya tentang Aperture di kamera DSLR, prosumer dan poket)


Jika foto obyek yang diperoleh dirasa kurang besar, bisa ditambahkan close-up filter. Ada beberapa pilihan untuk tambahan filter ini:
1. Filter high-end sejenis Raynox Supermacro Scan DCR 250 (harga Rp 900rb)
2. Filter close-up Kenko +1, +2, +4 atau sejenisnya (Rp 200-800rb, tergantung ukuran ring)
3. Membuat sendiri (harga bervariasi, tergantung kreativitas)

Pada kesempatan ini saya coba bandingkan hasil foto close-up pada sebuah obyek berukuran 5 mm x 50 mm. Pemotretan dilakukan di dalam ruangan dengan cahaya dari lampu baca ditambah dengan kertas putih sebagai reflektor. Obyek ditempatkan pada sebuah meja kecil seperti ini:

Untuk memberi gambaran ukuran obyek yang sebenarnya, silakan perhatikan foto saat pemotretan dilakukan dengan cara seperti ini:

Hasil yang diperoleh:
1. Kamera prosumer Canon SX 20 IS ditambah filter close-up buatan sendiri

2. Kamera Sony A200 + Tamron 18-200 mm + Raynox DCR 250

Kedua kamera memiliki resolusi tertinggi 10 MP. Kamera prosumer Canon SX20 IS pada dasarnya tidak berbeda dengan poket karena sama-sama menggunakan sensor 1/2.5 in. Kamera Sony A200 adalah DSLR entry level dengan sensor APS-C. Dari kedua foto di atas tampak bahwa tidak ada perbedaan signifikan selama intensitas cahaya cukup.

Filter close-up yang dipasang pada Canon SX 20 IS adalah lensa cembung yang diambil dari sebuah lensa lama dan dipasang pada ring filter 52 mm, sehingga bisa dipasang pada thread lensa kamera. Lensa untuk filter ini, bisa juga menggunakan kaca pembesar atau lup. Jadi jika dinilai harganya mungkin Rp 100rb atau kurang.

Motret makro pakai poket? Siapa takut .... :-)

Rabu, 08 Desember 2010

Pilihan Lensa Vario



Bulan lalu lensa kit Sony DT 18-70 mm yang biasa terpasang di kamera rusak gear motonya, akibatnya setiap digunakan lensa itu berbunyi "rrrrr ...." dan sering ga dapat fokus. Sewaktu dbawa ke service centre, perkiraan biaya perbaikannya adalah Rp 500.000 dengan waktu perbaikan sekitar 2 minggu, yang artinya sama dengan harga lensa kit 2nd. Akan tetapi, mengingat kasus kerusakan gear tersebut cukup sering terjadi pada lensa kit (ada resiko lensa yang baru dibeli nantinya rusak lagi), akhirnya saya memutuskan untuk membeli lensa Minolta 28-80 Macro sebagai pengganti.

Walaupun lensa pengganti ini tidak sepenuhnya "digital design", tetapi saya menyukai adanya petunjuk jarak obyek yang memudahkan kita untuk melakukan focusing secara manual. Selain itu, lensa ini juga dilengkapi dengan fitur macro pada FL 80 mm, memberi hasil yang lebih menarik daripada lensa kit pada FL 70. Namun demikian, pada mode makro focusing harus dilakukan secara manual.


Tidak berselang lama, saya mendapat tawaran lensa sapujagad, yaitu Tamron 18-200 mm Di-II LD XR Aspherical Macro. Dengan memperhitungkan crop factor 1.5x. lensa ini pada dasarnya memiliki range yang seimbang dengan lensa sapujagad Sigma 28-300 mm yang pernah saya pakai bersama kamera Canon EOS 1000 FN (analog) bertahun-tahun yang lalu. Namun demikian, setelah melakukan beberapa kali tes, saya menemukan kelebihan & kekurangan dari setiap lensa yang ada.

Lensa Tamron 18-200 memang unggul dalam range sehingga praktis untuk dibawa dalam berbagai kesempatan. Tapi lensa ini bukannya tanpa kelemahan. Beberapa hal yang saya rasakan:
1. Distorsi di bagian tepi gambar pada posisi wide end (18 mm)
2. Ketajaman yang cenderung soft pada tele-end.
3. Respon yang lebih lambat

Lambatnya respon saat pencarian fokus kelihatannya disebabkan oleh berat lensa tersebut. Oleh karena itu saya tetap mempertahankan kedua lensa Minolta yang sudah saya miliki meskipun focus range-nya sudah tercover oleh si Tammy.

Lebih lengkap mengenai Tamron 18-200mm Di II LD XR Aspherical macro, silakan klik:




Selasa, 09 November 2010

HDR Photography 02

Setelah memperoleh "bahan" untuk diolah dengan teknik HDR, langkah selanjutnya adalah menggunakan software untuk melakukan proses. Beberapa software yang dapat digunakan adalah:
1. Adobe Photoshop (dengan File > Automate > Merge to HDR)
2. Photomatix / Pro
3. Nik Software - HDR Efex Pro
4. Dynamic Photo HDRi
5. dan lain-lain

Pada kesempatan ini saya memakai aplikasi Dynamic Photo HDRi. Bagi Anda yang tertarik untuk mencoba menggunakan software ini, silakan kunjungi: http://dynamic-photo-hdr.en.softonic.com/  untuk mendownload.
Setelah aplikasi ini Anda isntall pada komputer, jalankan sehingga diperoleh tampilan seperti berikut:
Untuk memulai proses pembuatan foto HDR, klik tombol Create HDR file pada kolom kanan paling atas
.
Selanjutnya, klik tombol Add Images di atas kotak paling kiri pada pop-up window dan pilih file yang akan diolah dengan melakukan selection pada 3 file  yang dimaksud, lalu klik Open.

Selanjutnya akan source file dan preview hasil proses akan ditunjukkan pada kotak tengah dan kanan. Untuk melanjutkan proses, Anda dapat melakukan penyesuaian pada preview, atau langsung klik OK

Tahap selanjutnya adalah alignment. Jika Anda menggunakan tripod saat memotret, alignment mungkin tidak diperlukan, Anda tinggal klik tombol Align Files di kolom kanan untuk setiap kombinasi gambar. Jika alignment otomatis tidak berhasil, Anda dapat melakukannya secara manual dengan slider vertical, horisontal dan rotation di kolom kanan bawah.

Setelah proses alignment selesai, klik OK. Anda akan dibawa kembali ke window utama dengan preview file yang dipilih. Selanjutnya klik tombol Tone Map HDR pada kolom sebelah kanan. 

Langkah ini akan memunculkan window baru untuk proses Tone Mapping dan sebuah window lain yang berisi Quick Guide sebagai petunjuk proses tone mapping. Anda dapat mengklik OK untuk menutup Quick Guide atau F1 untuk memunculkannya kembali.

Dynamic Photo HDRI menyediakan beberapa mode Tone Mapping yang dapat dipilih pada kolom kiri atas dan fine tuning dengan beberapa slider di kolom kiri bawah. Mode yang tersedia adalah:
>; Eye Catching
>; Ultra Contrast
>; Smooth Processing
>; Photographic
>; Human Eye
Anda bisa mencobanya satu persatu untuk mengetahui perbedaannya. Perubahan ini dapat dilihat pengaruhnya pada preview di kolom tengah. Setelah menentukan mode HDR, pengaturan lebih detil bisa dilakukan dengan slider di kolom kiri bawah dan kolom kanan.

Jika Anda sudah memperoleh file HDR yang sesuai dengan selera, selanjutnya klik tombol Process di kiri bawah. Pilihannya adalah:
>; Process and Save untuk langsung menyimpan file HDR yang telah selesai
>; Process and Edit untuk melanjutkan editing gambar dengan aplikasi Photo Bee



Selamat berkreasi!


HDR Photography 01

Foto HDR biasanya digunakan pada obyek pemotretan dengan kontras cahaya yang lebar. Misalnya obyek yang berwarna gelap dengan latar belakang langit biru pada siang hari, atau sebaliknya obyek dengan lampu berwarna-warni di malam hari.

Pada obyek seperti ini, perbedaan kontras antara daerah shadow dan highlight menyebabkan hilangnya detil pada salah satu aspek. Metering di daerah shadow akan menyebabkan bagian highlight menjadi overexposed dan menghilangkan sebagian detil. Sebaliknya, metering pada bagian highlight menyebabkan hilangnya detil pada area shadow akibat underexposed.  Oleh karena itu, untuk merekam semua detil dilakukan beberapa kali pemotretan untuk merekam detil dari masing-masing daerah yang kemudian digabungkan dalam 1 (satu) gambar.

Untuk membuat foto HDR, prosesnya terdiri dari proses pengambilan gambar dan proses olah digital. Tulisa ini akan berfokus pada proses pengambilan gambarnya dahulu.

Pengambilan gambar dilakukan dengan menggunakan mode BRACKETING - yaitu mengambil 3 atau lebih foto berturut-turut dengan EXPOSURE VALUE yang berbeda-beda. Mode bracketing ini biasanya berada pada menu drive mode, dan dapat diatur melalui tombol akses atau di dalam menu. Contohnya seperti ini:
Foto: Drive Mode Button pada kamera Kodak C533


Foto: Drive mode Bracketing pada menu Sony A200 dengan EV +0.7


Pemotretan dengan mode bracketing akan menghasilkan 3 gambar atau lebih dengan nilai exposure yang dapat diatur antara (+-)0,3 hingga (+-)2.0, bergantung pada jenis kamera yang digunakan. Contoh hasil foto dengan mode bracketing ditunjukkan pada foto-foto berikut:
Contoh foto dengan mode bracketing, klik gambar untuk tampilan lebih besar

Beberapa tips untuk pemotretan dengan mode bracketing:
1. Pilih obyek dan latar belakang yang memiliki detil
2. Setting kamera:
-- (a) Exposure mode P, A, M
-- (b) WB Auto atau Daylight
-- (c) Metering average, multi segment atau centre weighted
-- (d) Lakukan metering pada midtone
-- (e) Gunakan aperture sempit f/8, f/11 dst
3. Lakukan metering pada midtone
4. Hindari obyek yang bergerak
5. Sebaiknya gunakan tripod atau monopod

Jika sudah diperoleh gambar dengan exposure value yang berbeda seperti di atas, maka selanjutnya adalah proses olah digital.

Senin, 08 November 2010

Kamera Kompak vs Kamera Handphone

Kamera poket digital HP M407 - kamera digital pertama yang saya punya - sempat jatuh dan body-nya berantakan. Setelah dicoba untuk disatukan kembali, kamera ini sebetulnya masih bisa berfungsi tetapi LCD-nya mati total. Untuk memotret masih bisa dipakai karena kamera ini punya optical viewfinder, tapi menunya tidak bisa diakses, kecuali dengan penuh perasaan ... hehehe ...
Tadi malam, masih dalam rangka "nostalgia", kamera kecil ini saya bawa jalan-jalan. Ndilalah, saya terjebak hujan. Jadi sambil menunggu hujan reda, saya coba bandingkan hasil jepretan kamera HP M407 ini dengan hasil dari Nokia N95. Setiap gambar dapat di-klik untuk menampilkan ukuran lebih besar. Berikut perbandingannya:

Data EXIF dari masing-masing foto sebagai berikut:

Crop 100% dari masing-masing foto:

Crop 100% dari setiap kamera menunjukkan bahwa hasil dari Nokia N95 lebih tajam dan menampilkan lebih banyak detil. Hal ini mungkin disebabkan oleh penggunaan lensa Carl Zeiss Tessar 2.8/6 dan shutter speed yang lebih tinggi.

Kesimpulan:
Teknologi fotografi senantiasa berkembang. Bukan hanya DSLR entry level modern yang mampu mengimbangi DSLR profesional, tetapi kamera handphone pun telah melewati apa yang dicapai kamera digital kompak beberapa tahun yang lalu.
Jadi, jangan bepergian tanpa kamera. Walaupun hanya kamera handphone, jangan biarkan momen berlalu tanpa diabadikan :-)